Makalah ini Diajukan
untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Literatur Tafsir Indonesia
Dosen Pembimbing :Dr. Mafri Amir, MA
DisusunOleh :
Kelompok VI
Alvi Luthfiyah Destari (11140340000096)
Pramudita Suciati (11140340000046)
Fikri Ihsan (1113034000189)
Muhammad TalazulA’yun
(1113034000179)
Zulhuzay Ibnu N (1113034000038)

PROGRAM STUDI ILMU QURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah swt yang telah memberi rahmat dan hidayah-Nya
serta kesehatan, keselamatan kepada kita semua, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas ini dengan baik. Semata-mata untuk menyempurnakan materi
kuliah Literatur Tafsir Indonesia, dalam bentuk makalah yang berjudul “Tafsir Qur’an
Karim karya H. Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS.”
Penulis
berharap apa yang telah penulis paparkan ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Tak lupa pula penulis ucapkan ribuan
terima kasih kepada Bapak dosen yang telah memberikan ilmunya dan pengarahannya
serta bantuannya kepada penulis dalam penyelesaian tugas ini.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Untuk
itu, saran dan kritik yang bersifat memperbaiki dari para pembaca sangat
penulis harapkan.
Atas
segala perhatiannya penulis ucapkan terima kasih. Penulis berharap semoga
penyajian makalah penulis ini dapat diterima bagi para pembaca. Semoga Allah
swt senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.
Jakarta, 13 Oktober
2016
Tim Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR………………………………………………………………………...i
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………………….....ii
BAB
I PENDAHULUAN……………………………………………………………………1
1. Latar
Belakang………………………………………………………....…...................1
2. Rumusan
Masalah…………………………………………………………………......2
3. Tujuan
Pembahasan……………………………………………………………….......2
BAB
II PEMBAHASAN………………………………………………………………….....3
1. Riwayat Hidup H. Fachruddin HS………………………………………………..3
2. Riwayat Hidup H. Zainuddin Hamidy……………………………………………4
B.
Deskripsi Filologi Tafsir Qur’an…………………………………………………………...6
C.
Mengenal
Kitab Tafsir Qur’an………………………………………………………..7
1. Latar
Belakang Penulisan Tafsir Qur’an………………………………………….7
2. Karakteristik
Penafsiran ………………………………………………………….8
3.
Langkah Penafsiran ………………………………………………………………8
D. Karya
H. Zainuddin Hamidy………………………………………………………….8
E.
Telaah
Metodologis Tafsir Qur’an……………………………………………………9
1.
Jenis Tafsir (Naw’u at-Tafsir)……………………………………………………..9
2.
Metode Tafsir (Thariqah at-Tafsir)……………………………………………….9
3.
Corak Tafsir (Lawn at-Tafsir)…………………………………………………….10
4.
Sumber (Mashodir)……………………………………………………………….10
5.
Teknik Pemisahan (Al-Qism atau Al-Majmu’ah)………………………………………………………………………...10
F. Pendapat
Ulama Tentang Tafsir Qur’an……………………………………………....10
BAB
III PENUTUP……………………………………………………………………….…12
KESIMPULAN……………………………………………………………………….. …12
DAFTAR KEPUSTAKAAN……………………………………………………………........13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam,
merupakan kitab yang paling memiliki kekuatan sepanjang sejarah umat manusia.
Kekuatan tersebut terkadang muncul dengan sendiri, karena aspek estetis
al-Qur’an atau dimunculkan oleh manusia (ulama, mufasir) melalui kajian-kajian
tafsirnya. Kajian-kajian tersebut dituliskan dalam kitab-kitab tafsir yang
memiliki diversitas metode, corak, bentuk dan karakteristiknya. Seiring
berjalannya waktu, diversitas itu dengan sendiri kemudian membentuk hasil dari
penafsiran al-Qur’an yang berbeda-beda dari para mufassir atau kitab tafsir
yang ada sampai sekarang ini.
Keinginan para ulama untuk menyusun Tafsir
Al-Qur’an di Indonesia pada abad ke-20 mengalami kemajuan dari tahun ke tahun
semenjak dimulai oleh Mahmud Yunus tahun 1940-an. Pada prinsipnya dorongan
menulis tafsir adalah untuk mendermabaktikan karyanya dem kemajuan umat Islam
ditanah air. Mereka para ulama melihat, sangat sedikit jumlah tafsir berbahasa
Indonesia sebagai bahan bacaan masyarakat. Sebagaimana dipahami ahwa umat Islam
Indonesia tidak banyak yang bisa memahami Al-Qur’an dalam bahasa aslinya,
bahasa Arab. Setelah Mahmud yunus,barulah Ahmad Hasan atau Hasan Bandung yang
baru menafsirkan Al-Qur’an dengan tafsirnya Al-Furqan yang diterbitkan mulai
pada tahun 1940. Dibandingkan dengan tafsir Mahmud Yunus dan Hasan Bandung,
H.Zainuddin Hamidy dan H. Fachruddin HS berhasil menyusun tafsir yang lebih
baik. Tafsir tersebut memberikan komentar lebih luas dan lebih kaya dari segi
sumber bacaannya. Banyak sisi-sisi menarik dari tafsir yang satu ini. Dan pada
makalah kali ini, kami akan memaparkan salah satu mufasir di tanah air kita
yaitu Haji Zainuddin bin Abdul Hamidatau yang lebih dikenal dengan Haji
Zainuddin Hamidy bersama temannya Fachruddin HS.Berikut dijelaskan beberapa hal
penting dalam paparan dibawah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Profil Penulis Tafsir Qur’an :
·
Riwayat
Hidup H. Zainuddin Hamidy dan
·
Riwayat Hidup H. Fachruddin HS
2. Deskripsi Filologi Tafsir Qur’an
3.
Mengenal Kitab Tafsir Qur’an
·
Latar Belakang Penulisan Tafsir Qur’an
·
Karakteristik Penafsiran
·
Langkah Penafsiran
4.
Telaah Metodologis Tafsir Qur’an
·
Jenis Tafsir (Naw’u at-Tafsir)
·
Metode Tafsir (Thariqah at-Tafsir)
·
Corak Tafsir (Lawn at-Tafsir)
·
Sumber (Mashodir)
·
Teknik Pemisahan (Al-Qism atau Al-Majmu’ah)
5.
Pendapat Ulama Tentang Tafsir Qur’an
C.
Tujan Pembahasan
1.
Mengetahui Profil Penulis
Tafsir Qur’an
2.
Mengetahui
Deskripsi Filologi Tafsir Qur’an
3.
Mengetahui dan Mengenal Kitab Tafsir Qur’an
4.
Mengetahui Telaah Metodologis Tafsir Qur’an
5.
Mengetahui Pendapat Ulama Tentang Tafsir Qur’an
BAB II
PEMBAHASAN
A. Profil Penulis Tafsir Qur’an
1. Riwayat Hidup H.Fachruddin HS.
Pada tahun ke-19 M. hidup seorang ulama yang
cukup terkenal di Situjuh Batur bernama, H. Husein TuankuKhatib. Istrinya
bernama Hj. Putiah Fatimah. Dari perkasinannya denagn Hj. Putiah Fathimah, H.
Husen dikaruniai dua orang anak yaitu H. Fachruddin HS DT. Majo Indo dan
Makinuddin HS. H.Fachruddin HS Datuk Majo Indo merupakan keturunan dara biru
ulama. Disamping ayahnya, Tuanku Khatib, sebagai ulama yang disegani di Situjuh
Batur, kakak ayah H.Fakhruddin HS Dt. Majo Indo yang bernama Ismail juga
dikenal sebagai ulama yang berpengaruh didaerahnya pada masanya. Kakeknya yang
terkena dengan sebutan Inyaik Datuk juga merupakan seorang ulama yang terkenal.
Sejak masa kanak-kanak H.Fachruddin HS Dt. Majo
Indo, telah diperkenalkan oleh orang tuanya serta kakeknya tentang ilmu agama
islam. Ketika berumur lima tahun, beliau telah diajarkan membaca Al-Qur’an dan
sering dibawa ayahnha pergi berdakwah keberbagai tempat. Pelajaran agama yang
dipelajari ketika H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo berumur 6 dan tujuh, disamping
terus belajar membaca kitab Al-‘Afwan, beliau juga diajari membaca Arab Melayu.
Pada tahun 1916, H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo masuk sekolah dasar biasa.
Setelah menamatkan sekolah dasar biasa ini, selanjutnya H. Fachruddin HS Dt.
Majo Indo belajar secara non-formal kebeberapa guru disekitar tempat
tinggalnya. Pada tahun 1921 hingga tahun 1922, beliau belajar dengan Tuanku
Mudo Hamzah disekitar sekolah diAir Tabit. Pada tahu 1921 hingga 1922, beliau
mengajar dengan Tuanku MUdo Hamzah disebuahsekolah di Air Tabit. Pada btahun
1923 sampai 1927 beliau berguru kepada Engku Mudo Ahmad Karung.
Orang tua H.Fachruddin HS Dt Majo Indo
mengingatkan anaknya untuk belajar agama Islam lebih mendalam ke pusat agama
islam itu sendiri. Untuk itu H. Husein dan Hj. Putiah fathimah menyuruh anaknya
pergi ke Mekkah belajar ilmu agama Islam. Namun, H.Fachruddin HS Dt Majo Indo
menolak tanpa alasan yang cukup jelas. Tampaknya beliau lebih suka belajar
disekolah biasa dan belajar dari satu guru keguru lainnya diberbagai surau.
Semasa hidupnya H. Fachruddin HS Dt Majo Indo
telah memperistrikan 4 wanita, yaitu; pertama menikahi gadis sekampungnya yang
bernama Itam. Pernikahan ini berlangsung saat H.Fachruddin berumur 17 tahun.
Namun pernikahannya dengan itam tidak dikaruniai keturunan. Lalu yang kedua
bernama Yulinun, ketiga bernama Nurhasanah dan istri yang keempat bernama
bulan.
Dalam bidang pendidikan H.Fachruddin HS Dt Majo
Indo ikut dalam ikatan pelajar Sumatra Thawalib dan dalam bidang politik dia
pernah menjabat sebagai Ketua PERMI (Persatuan Muslim Indonesia) didaerah
Payakumbuh Kab. 50 Kota. PERMI ini merupakan bentukan dari ikatan pelajar
Sumatera Thawalib.[1]
2. Riwayat Hidup H. Zainuddin Hamidy
Haji Zainuddin Hamidy lahir di Koto Nan IV
payakumbuh pada tanggal 8 Februari 1907/24 Dzulhijjah 1324. Anak dari Abdul
Hamid dan Halimah. Putra kedua dari dua orang bersaudara, kakaknya bernama
Nahrawi, istri Imam Mukhtasar, seorang ulama terpandang didaerahnya. Dia
memiliki 5 orang saudara sebapak, seperti Zainullah, Amiruddin, Salim, Mariam,
dan Bermawi.Masa kecil dihabiskan Zainuddin Hamidy dikampung halamannya. Ia
tumbuh dari keluarga yang tidak begitu religious, bahkan ayahnya dianggap
seorang Pareman.Tapi, faktor lingkungan dan keuletannya dalam menuntut
ilmu, membuat Zainuddin Hamidy kelak dikenal sebagai seorang ulama yang cukup
berpengaruh. Disamping melewati pendidikan non formal tradisional yakni surau,
Zainuddin Hamidy juga menempuh pendidikan formal. Selama lima tahun, ia sekolah
disekolah government di payukumbuh.
Setelah tamat dari sekolah ini, Zainuddin
Hamidy memasuki sekolah Darul Funun el-Abbasiy di Padang japing pimpinan
Syekh Abbas. Madrasah Darul Funun ini merupakan sebuah lembaga pendidikan
maupun dalam fasilitas yang digunakan. Sekolah ini telah memakai sistem klasikal
dan para muridnya telah belajar dangan menggunakan fasilitas yang digunakan
sekolah ini telah memakai sistem klasikal dan dimadrasah Darul Funun ini
Zainuddin Hamidy belajarilmu tafsir, hadis, Bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya.
Zainuddin Hamidy adalah dikenal sebagai murid
yang cerdas, seorang yang ramah tamah, konsekuen, ulet dan tidak pernah
berputus asa. Beliau tidak banyak bicara hal-hal yang tidak perlu, beliau
banyak tersenyum dan memiliki wibawa yang sangat besar. Beliau adalah ahli
agama dan tokoh masyarakat yang selalu berpenampilan sederhana. Karena keluasan
ilmu dan kealimannya, masyarakat Koto dan Ampek menggelari beliau dengan
gelar “Angku Mudo” yang berarti seorang ahli agama yang masih
muda. Kepada murid-muridnya, Buya Zainuddin Hamidy juga bersikap ramah dan
santun. Sekalipun bersikap tenang dan santun, Namun Buya Zainuddin Hamidy
terkenal sangat disiplin dalam mengajarkan pendidikan, baik kepada
murid-muridnya bahkan juga kepada anak-anak beliau.
Hal ini terbukti, ketika ia duduk di bangku
terakhir (kelas akhir), ia dipercaya untuk mengajar di kelas lima. Karena kepintarannya
ini, pimpinan Madrasah Darul Funun Padang Jepang, Syekh Abdul Abbas menyuruh
dan merekomendasikan Zainuddin Hamidy untuk melanjutkan pendidikannya ke
Mekkah. Sebelum berangkat ke Mekkah, Zainuddin Hamidy terlebihb dahulu menikah
dengan Rahmah. Kelak, dari Rahmah, Zainuddin Hamidy memiliki 7 orang anak.
Sesampainya di Mekkah, ia menuntut ilmu agama
di salah satu perguruan terkenal di masa itu, Ma’had Islamy. Zainuddin
Hamidy merupakan orang Indonesia pertama yang sekolah di perguruan ini. Di
perguruan ini ia belajar beberapa tahun. Setelah merasa cukup waktu dalam
menuntut ilmu agama, Zainuddin Hamidy pulang ke kampung halamannya dalam usia
yang relatif muda. Setelah sampai di Payakumbuh, beliau kemudian menikahi
Desima Jasin. Dengan Desima Jasin ini kemudian Zainuddin Hamidy memiliki 7
orang anak.
Di kampung halamannya, Minangkabau, Zainuddin
Hamidy mencurahkan pemikirannya dalam dunia pendidikan dan keagamaan. Terebukti,
setelah kembali dari Mekkah, ia kemudian mendedikasikan ilmunya pada madrasah
tempat pertama ia menuntut ilmu yang telah berganti nama dengan Darul Funun.
Dia kemudian juga mendirikan lembaga pendidikan di Koto Nan IV Payakumbuh.
Ma’had Islamy ini merupakan lembaga pendidikan islam yang awalnya bernama
Diniyyah School. Pengambilan nama Ma’had Islamy ini dilatarbelakangi oleh
romantisisme Syekh Haji Zainuddin Hamidy ketika ia mrenuntut ilmu di perguruan
Ma’had Islamy Mekkah. Di bawah pimpinannya inilah Ma’had mengalami kemajuan
yang sangat pesat dan membutuhkan banyak kelas untuk belajar.
Pada tahun 1940, gedung baru yang didanai
secara sukarela dan patungan oleh masyarakat ini, selesai dibangun. Gedung baru
ini berjumlah 10 lokal yang dibangun secara permanen, setelah gedung baru ini
tuntas dibangun dan diresmikan pemakaiannya, pada tanggal 13 februari 1941
terjadi angin putting beliung yang merobohkan gedung yang baru dibangun
tersebut. Kesedihan kemudian menghinggapi hati masyarakat dan para pengurus
Ma’had Islamy, tak terkecuali Syeikh Haji Zainuddin Hamid. Untuk menenangkan
hati masyarakat dan pengurus, Syekh Haji Zainuddin Hamidy berusaha untuk tampil
tabah dan selalu mengatakan : “Asaa Rabunaa An Yubdillana Khairan Minhaa”
semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik dari yang ini. Di bawah komando
Syeikh Haji Zainuddin, mereka mulai kembali membangun gedung yang roboh
tersebut. Untuk merealisasikan keinginan ini, maka dibentuk panitia pembangunan
gedung baru. Panitia ini diketuai oleh Fachruddin HS Dt. Majo Indo, Ahmad Hamid
Ibrahim, Arbi, Kari Lazim dan lain-lain, berkat kerja keras panitia dan
dukungan dari masyarakat pada tahun 1942, gedung baru ini selesai dibangun.
Ia merupakan salah satu ulama ternama Sumatera
Barat dan beberapa karya tulisnya, antara lain: Tafsir Al-Qaur’anul Karim,
merupakan tafsir Al-Qur’an generasi pertama di Indonesia yang dikarangnya
bersama-sama dengan Fakhruddin HS. Kemudian, terjemahan Shahih Bukhari,
dilakukan bersama dengan Darwis Z. dan Fakhruddin HS, terjemahan hadits arba’in
dan Musthala’ah Hadits.
B.
Deskripsi Filologi Tafsir Qur’an
Data
filologis di bawah ini diambil dari kumpulan kitab tafsir yang ditemukan di
Perpustakaan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan
perincian sebagai berikut:
Nama Kitab:
Tafsir Qur’an Naskah asli-terjemah-keterangan.
Pengarang: H.
Zainuddin Hamidy dan Fachruddin H.S
Ukuran Kitab: 28
X 25 cm
Kondisi Kitab:
Baik
Nomor Panggil
Cover MCMLXVII
Halaman Kitab:
XIV+963
Jumlah Kitab: 1
jilid : 2x1.3 HAM T: jilid biasa
Bahasa: Kitab
ini menggunakan bahasa Indonesia
Penerbit:
Widjaya Djakarta
Tahun Terbit:
1967
Sistematika
kitab: Penulisan nomor halaman pojok kanan atas
·
Tafsir pada kitab ini ditulis dibawah bagian
kitab seperti penulisan foot note.
·
Penulisan ayat berdampingan kiri kanan dengan
terjemahan.
Kitab
ini telah diterbitkan 4 kali cetakan pertama tahun 1955, cetakan kedua 1962,
cetakan ketiga 1963, cetakan ke empat 1967. Yang diteliti ini adalah cetakan
pada tahun keempat.
C.
Mengenal Kitab Tafsir Qur’an
a.
Latar Belakang Penulisan Tafsir Qur’an
Latar belakang penulisan kitab tafsir al-Qur’an ini adalah
berawal dari niat penulis tafsir itu sendiri yang diniatkan sebagai satu
sumbangan darmabakti untuk ketinggian agama islam seperti perkataan penulis
dalam pengantar kitab tafsirnya:
“Penyusunan tafsir Qur’an ini bukanlah suatu hal yang
ringan, melainkan kerja yang berat dan sulit. Dan penulisan ini menuntut study
yang berbilang tahun dan penyusunannya memerlukan tenaga, pemikiran dan waktu
yang cukup. Alhamdulillah, pekerjaan yang berat dan panjang ini telah dapat
diselesaikan sebagai satu sumbangan dan darmabakti untuk ketinggian agama
kita”.[2]
b.
Karakteristik Penafsiran
Dalam menafsirkan ayat al-Qur’an dalam kitabnya, penulis
tidak menafsirkan seluruh ayat tetapi hanya menafsirkan bagian-bagian ayat yang
dianggap penting untuk ditafsirkan dan penafsirannya pun hanya secara umum
tidak terperinci. Kitab ini masih menggunakan bahasa Indonesia yang belum baku
atau sesuai dengan EYD sekarang.
Dalam permulaan kitab terdapat kata sambutan dari Syekh
Sulaiman ar-Rasuli Candung, Syekh Ibrahim Musa Parabek yang ditulis tahun 1956,
dan Haji Agus Salim yang menulis 3 tahun sebelumnya, 1953. Dengan demikian,
tafsir ini sesungguhnya telah selesai disusun tahun 1953. Kemudian penulis
membuat daftar surat sesuai dengan alphabet latin dan di bagian akhir kitab
penulis menantumkan penunjuk isi, sesuai dengan alphabet, daftar surat dan isi
yang terpenting.
c.
Langkah Penafsiran
Dalam penulisan kitab, penulis menggunakan langkah tartib
mushafi di mana dituliskan nomor surat, nama surat, serta arti dari nama
surat itu sendiri, jumlah ayat, dam tempat turun Makkiyah-Madaniyyah.
D.
Karya H. Zainuddin Hamidy
Syaikh Zainuddin Hamidy dikenal luas ahli agama, hafiz, ahli
hadits, pengarang, disamping sebagai tokoh pendidikan. Sering pula beliau
disebut sebagai politikus, organisator, pemikir yang berpandangan jauh jauh ke
depan dan berpikir jernih. Selain aktif dalam mengajar, Zainuddin Hamidy juga
banyak menulis buku. Sayangnya buku-buku ini banyak yang hilang ketika Belanda
dan Jepang mengobrak-abrik pesantren Ma’had Islamy dan rumah Buya Zainuddin
Hamidy. Beberapa karya tulisnya yaitu, antara lain:
1.
Terjemahan al-Qur’an Karim, merupakan Tafsir
Al-Qur’an pertama di Indonesia yang dikarangnya bersama-sama dengan Fakhruddin
HS berdasarkan periodisasi tafsir di Indonesia, tafsir ini merupakan generasi ke-IV yakni abad-20 jadi
dikarang sekitar tahun 1963-an.[3]
2.
Shahih Bukhari, beliau karang bersama Darwis Z
dan Fakhruddin HS tahun terbit kedua 2006.
3.
Terjemahan Hadits Arba’in, kitab tauhid dan
Musthalahul Hadits, kitab terakhir ini merupakan salah satu pegangan beliau
ketika mengajar ilmu hadits di Training Collage Payakumbuh dan PGA A
Bukittinggi.[4]
E.
Telaah Metodologis Tafsir Qur’an
a.
Jenis Tafsir (Naw’u at-Tafsir)
Tafsir Qur’an Karim karya Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS
dalam menafsirkan al-Qur’an ini tidak dijelaskan secara eksplisit dalam kitab
tafsirnya ini, apakah tafsir bi al-riwayah, tafsir bi al-ra’yi, atau
tafsir bi al-isyari. Dari pengamatan penulis terhadap penafsiran Hamidy dan
Fachruddin dalam menafsirkan al-Qur’an, jenis tafsir yang digunakan oleh beliau
adalah tafsir bi al-ra’yi/ bi al-ijtihadi.
b.
Metode (Thariqah)
Di dalam Tafsir Qur’an ini penulis menggunakan sistematika
ijmali dan menafsirkan kata yang dianggap penting. Penulis dalam menulis
tafsirnya banyak mengutip dari kitab-kitab tafsir yang terkenal dalam dunia
Islam seperti, Tafsir al-Kabir, Tafsir Fathul Qadir, Tafsir Ruhul Ma’ani,
Tafsir al-Qur’an Nul ‘Azim, Tafsir al-Manar, dan Tafsir al-Jawahir.
Sementara dalam bahasa asing (barat) penulis mengambil dari kitab tafsir THE
HOLY QUR’AN oleh A. Yusuf Ali, THE HOLY QUR’AN oleh Maulvi Muhammad Ali M.A,
dan The Meaning Of The Glorious Koran oleh Muhammed Marmaduke Pickthall,
dll.[5]
Dari hasil kajian terhadap metode tafsir Zainuddin Hamidy,
bila ditinjau dari sudut sistematika penulisannya, jelas beliau menggunakan
metode tahlili, karena beliau menafsirkan ayat al-Qur’an secara urut sesuai
dengan urutan ayat dan surat dalam al-Qur’an, yaitu dimulai dengan surat al-Fatihah
dan diakhiri dengan surat al-Naas.
c.
Corak (Lawn)
Tafsir Qur’an Karim karya Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS
ini walaupun tidak secara nyata mengarah kepada salah lawn (corak) yang ada,
paling tidak secara keseluruhan yang tergambar dari uraiannya menuju pada lawn
(corak) sosial kemasyarakatan (Adabi-Ijtima’i).[6]
d.
Sumber (Mashodir)
Sumber dari kitab hadits diambil dari beberapa kitab seperti,
Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab hadits lainnya. Dan diantara kitab-kitab
lainnya yaitu al-Mufradat Fi’qharibil Qur’an karya al-Asfahani, Mu’jam Gharibil
Qur’an oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi dan Mu’jam al-Qur’an oleh Abdul Rauf
al-Misry. Dan di dalam kitab ini juga banyak didorong oleh para ulama seperti,
Haji Agus Salim dan Syekh Ibrahim Musa.[7]
e.
Teknik Pemisahan (Al-Qism atau Al-Majmu’ah)
Tafsir Qur’an Karim karya Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS,
bila ditinjau dari sudut sistematika penulisannya, jelas beliau menggunakan
teknik Al-Majmu’ah (satu pembahasan).
F.
Pendapat Ulama Tentang Tafsir Qur’an
Syekh Ibrahim Musa berpendapat tentang Kitab Tafsir Qur’an
ini seperti yang beliau katakan, “Setelah saya perhatikan Tafsir Qur’an yang
diusahakan oleh saudara Fachruddin HS dan H. Zainuddin Hamidy, baik tentang isi
atau susunannya, dapatlah saya kemukakan disini, bahwa usaha ini telah
membukakan pintu dan memberi jalan untuk mendapat ilmu dan hikmah yang
terkandung di dalam al-Qur’an, terutama bagi mereka yang tiada dapat memahami
dari bahasanya yang asli. Tentulah usaha ini akan mendapat sambutan dari
masyarakat, sebagai satu sumbangan yang berharga dalam memperluas pengetahuan
dan memperdalam jiwa ke-islaman di tanah air kita ini.[8]
Haji Agus Salim sangat memuji apa yang telah dilakukan dua
ulama ini. “Dengan ikhlas hati saya memujikan tafsir Qur’an yang disusun oleh
Fachruddin HS ini kepada perhatian peminat-peminat pengajaran agama, terutama
kepada guru-guru. Supaya baiknya mendapat penghargaan, salahnya mendapat
teguran, sehingga penyusunannya mendapat tuntunan untuk melanjutkan perhatiannya
kepada ilmu Qur’an yang sangat berguna itu. Dan supaya pekerjaannya menjadi
berguna pula untuk perkembangan agama di tanah air kita ini”.[9]
BAB
III
PENUTUP
v
Kesimpulan
Dari pengamatan penulis terhadap penafsiran Hamidy dan
Fachruddin dalam menafsirkan al-Qur’an, jenis tafsirnya adalah tafsir bi
al-ra’yi/bi al-ijtihadi. Jika ditinjau dari sudut sistematika penulisan dan
penafsirannya, Metode (Thariqah) tafsirnya jelas beliau menggunakan metode
tahlili, karena beliau menafsirkan ayat al-Qur’an secara urut sesuai dengan
urutan ayat dan surat dalam al-Qur’an, yaitu dimulai dengan surat al-Fatihah
dan diakhiri dengan surat al-Naas. Lawn (Corak) Tafsir Qur'an Karim karya
Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs ini walaupun tidak secara nyata mengarah
kepada salah lawn yang ada, paling tidak secara keseluruhan yang tergambar dari
uraiannya menuju pada lawn sosial kemasyarakatan (Adab Ijtima'i).Dan jika ditinjau
dari sudut sistematika penulisannya, teknik pemisahan (Al-Qism) tafsirnya jelas
beliau menggunakan teknik Al-Majmu’ah (satu pembahasan).
Demikianlah pembahasan makalah yang dapat kami paparkan. Dan
tentunya masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan baik dari susunan
isinya maupun dalam penyampaiannya. Maka dari itu kritik dan saran sangat kami
harapkan, dan semuga makalah ini dapat menambah wawasan kita. Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, Mafri. Literatur
Tafsir Indonesia, Ciputat: Mazhab Ciputat, 2013
Shahib, Muhammad
dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga al-Qur’an, Jakarta: Lajnah
Pentashih Mushaf al-Qur’an, September 2011 M
Hiamat Israr,
Angku Mudo H. Zainuddin Hamidy Pejuang Agama dan Pendiri Ma’had Islami
Payakumbuh, Bandung: Budaya Media, 2010 M
http://thkhusus.wordpress.com/2010/01/03/sekilas-tafsir-di-indonesia/,
diaskes pada hari selasa, tgl 3 juli 2012, jam 3.08 pm
Muhammad Shahib
dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an: Biografi Huffaz Al-Qur’an
di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, September 2011 M),
hal. 434
سورة الفاتحة
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2)
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3)
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)
إِيَّاكَ نَعْبُدُ
وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)
اهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ (6)
صِرَاطَ الَّذِينَ
أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
Surat 1
AL FATIHAH (PEMBUKAAN)[10]
Turun di Mekkah, banjaknja 7 ajat.
3. Jang pemurah penjajang.
5. Hanjalah engkau jang kami sembah,
dan kepada engkau sadja kami memohon pertolongan.
6. Pimpinlah kami kedjalan jang lurus.
7. Djalan mereka jang engkau
anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan djalan orang-orang jang dimarahi
(dimurkai) dan bukan djalan orang-orang jang sesat (tidak tahu jalan)[14].
[1] Tim
Peneliti FIEA IAIN Padang
[2]
Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS, “Tafsir Quran’ Widjaya
Djakarta,tahun 1955
[3]http://thkhusus.wordpress.com/2010/01/03/sekilas-tafsir-di-indonesia/,
diaskes pada hari selasa, tgl 3 juli 2012, jam 3.08 pm.
[4]Muhammad
Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an: Biografi Huffaz
Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, September
2011 M), hal. 434
[5]
Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS, “Tafsir Quran/’ Widjaya
Djakarta,tahun 1955
[6] Dr.
Mafri Amir, MA, Literatur Tafsir Indonesia
[7]
Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS, “Tafsir Quran’ Widjaya
Djakarta,tahun 1955
[8] Dalam
sambutan Ibrahim Musa Parabek.
[9] Agus
Salim dalam sambutannya.
[10] Surat ini
dinamakan Al Fatihah (pembukaan) atau Fatihatul Kitab (pembukaan Kitab)
karena itulah surat pertama dalam susunan Al-Qur’an. Djuga dinamakan Ummul Kitab, artinja
Ibu Kitab atau Pokok Kitab, karena mengingat luas isi dan tudjuan Al fatihah
jang mengandung isi dari qur’an seluruhnja. Djuga dinamakan As sab’ul
Matsani atau Sab’an minal matsani, artinja tudjuh jang
diulang-ulang, karena Al-Fatihah itu adalah tudjuh ajat jang terus
diulang-ulang membatjanja setiap raka’at dalam sembahjang .
,,Dan sesungguhnja telah kami berikan
kepada engkau (Muhammad) tudjuh jang diulang-ulang (sab’an minal matsani)
dan quran besar. (15:87).
[11] Allah
ialah nama Tuhan jang Maha Esa dan Maha Kuasa. Pada umumnja perkataan Allah
disalin dengan perkataan Tuhan. Rahman artinja jang banjak melimpahkan
kebaikan. Rahim artinja jang mempunjai
perasaan kasih sajang (penjajang). Setiap surat dalam Al-qur’an dimulai dengan Bismillahir
rahmanir Rahim, selain dari surat 9(Baraa). Ketika hendak memulai
sesuatu pekerdjaan atau membatja, kita membatja Bismillahir rahmanir Rahim,
berarti bahwa kita membatja atau memulai perkerdjaan itu dengan nama tuhan,
karena mengingat perintahnya, serta kemurahan dan kasih sajangnja kepada alam
semesta ini.
[12]Rabb artinja
pentjipta dan djuga pemelihara. Pengatur dan pendidik, jang menjusun dan
mengatur segala sesuatu dengan sebaik-baiknja dalam menudju kesempurnaan. Djadi
Rabb itu berarti Pemimpin atau Pengatur, dan biasa djuga diartikan orang dengan perkataan Tuhan.
Al-‘alamin berarti alam semesta dan diantaranja bangsa-bangsa manusia, djin
dan malaikat.
[13]Malik artinja
jang memerintahi, dan Malik artinja jang mempunjai. Jaumiddin
artinja hari pembalasan, jaitu achirat sehabis kehidupan dunia ini, dan ketika
itu setiap manusia menerima pembalasan, jaitu hari achirat sehabis kehidupan
dunia ini, dan ketika itu setiap manusia menerima pembalasan amalnja, jang baik
dan jang buruk.
[14] Sehabis
mmembatja Fatihah ini dibatja ‘’Amin!” artinja: Terimalah permohonan
kami!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar