Selasa, 18 Oktober 2016

Tafsir Qur’an Karim karya H. Zainuddin Hamidy dan Fachruddin H.S.

Tafsir Qur’an Karim karya H. Zainuddin Hamidy dan Fachruddin H.S

Makalah ini Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Literatur Tafsir Indonesia
Dosen Pembimbing :Dr. Mafri Amir, MA

DisusunOleh :
Kelompok VI
  Alvi Luthfiyah Destari                (11140340000096)
 Pramudita Suciati                       (11140340000046)
         Fikri Ihsan                                   (1113034000189)
         Muhammad TalazulA’yun            (1113034000179)
         Zulhuzay Ibnu N                        (1113034000038)


PROGRAM STUDI ILMU QURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016


KATA PENGANTAR

           Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberi rahmat dan hidayah-Nya serta kesehatan, keselamatan kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Semata-mata untuk menyempurnakan materi kuliah Literatur Tafsir Indonesia, dalam bentuk makalah yang berjudul “Tafsir Qur’an Karim karya H. Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS.
          Penulis berharap apa yang telah penulis paparkan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Tak lupa pula penulis ucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak dosen yang telah memberikan ilmunya dan pengarahannya serta bantuannya kepada penulis dalam penyelesaian tugas ini.
          Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Untuk itu, saran dan kritik yang bersifat memperbaiki dari para pembaca sangat penulis harapkan.
      Atas segala perhatiannya penulis ucapkan terima kasih. Penulis berharap semoga penyajian makalah penulis ini dapat diterima bagi para pembaca. Semoga Allah swt senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.


Jakarta, 13 Oktober 2016


Tim Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………...i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….....ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………1
1.      Latar Belakang………………………………………………………....…...................1
2.      Rumusan Masalah…………………………………………………………………......2
3.      Tujuan Pembahasan……………………………………………………………….......2
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………….....3
A.    Profil Penulis Tafsir Qur’an………………………………………………………………..3
1.      Riwayat Hidup H. Fachruddin HS………………………………………………..3
2.      Riwayat Hidup H. Zainuddin Hamidy……………………………………………4
B.     Deskripsi Filologi Tafsir Qur’an…………………………………………………………...6
C.     Mengenal Kitab Tafsir Qur’an………………………………………………………..7
1.      Latar Belakang Penulisan Tafsir Qur’an………………………………………….7
2.      Karakteristik Penafsiran ………………………………………………………….8
3.      Langkah Penafsiran ………………………………………………………………8
D.    Karya H. Zainuddin Hamidy………………………………………………………….8
E.     Telaah Metodologis Tafsir Qur’an……………………………………………………9
1.      Jenis Tafsir (Naw’u at-Tafsir)……………………………………………………..9
2.      Metode Tafsir (Thariqah at-Tafsir)……………………………………………….9
3.      Corak Tafsir (Lawn at-Tafsir)…………………………………………………….10
4.      Sumber (Mashodir)……………………………………………………………….10
5.      Teknik Pemisahan (Al-Qism atau Al-Majmu’ah)………………………………………………………………………...10
F.      Pendapat Ulama Tentang Tafsir Qur’an……………………………………………....10
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………….…12
KESIMPULAN……………………………………………………………………….. …12
DAFTAR KEPUSTAKAAN……………………………………………………………........13


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, merupakan kitab yang paling memiliki kekuatan sepanjang sejarah umat manusia. Kekuatan tersebut terkadang muncul dengan sendiri, karena aspek estetis al-Qur’an atau dimunculkan oleh manusia (ulama, mufasir) melalui kajian-kajian tafsirnya. Kajian-kajian tersebut dituliskan dalam kitab-kitab tafsir yang memiliki diversitas metode, corak, bentuk dan karakteristiknya. Seiring berjalannya waktu, diversitas itu dengan sendiri kemudian membentuk hasil dari penafsiran al-Qur’an yang berbeda-beda dari para mufassir atau kitab tafsir yang ada sampai sekarang ini.
Keinginan para ulama untuk menyusun Tafsir Al-Qur’an di Indonesia pada abad ke-20 mengalami kemajuan dari tahun ke tahun semenjak dimulai oleh Mahmud Yunus tahun 1940-an. Pada prinsipnya dorongan menulis tafsir adalah untuk mendermabaktikan karyanya dem kemajuan umat Islam ditanah air. Mereka para ulama melihat, sangat sedikit jumlah tafsir berbahasa Indonesia sebagai bahan bacaan masyarakat. Sebagaimana dipahami ahwa umat Islam Indonesia tidak banyak yang bisa memahami Al-Qur’an dalam bahasa aslinya, bahasa Arab. Setelah Mahmud yunus,barulah Ahmad Hasan atau Hasan Bandung yang baru menafsirkan Al-Qur’an dengan tafsirnya Al-Furqan yang diterbitkan mulai pada tahun 1940. Dibandingkan dengan tafsir Mahmud Yunus dan Hasan Bandung, H.Zainuddin Hamidy dan H. Fachruddin HS berhasil menyusun tafsir yang lebih baik. Tafsir tersebut memberikan komentar lebih luas dan lebih kaya dari segi sumber bacaannya. Banyak sisi-sisi menarik dari tafsir yang satu ini. Dan pada makalah kali ini, kami akan memaparkan salah satu mufasir di tanah air kita yaitu Haji Zainuddin bin Abdul Hamidatau yang lebih dikenal dengan Haji Zainuddin Hamidy bersama temannya Fachruddin HS.Berikut dijelaskan beberapa hal penting dalam paparan dibawah ini.



B.     Rumusan Masalah
1.      Profil Penulis Tafsir Qur’an :
·         Riwayat Hidup H. Zainuddin Hamidy dan
·         Riwayat Hidup H. Fachruddin HS
2.      Deskripsi Filologi Tafsir Qur’an
3.      Mengenal Kitab Tafsir Qur’an
·         Latar Belakang Penulisan Tafsir Qur’an
·         Karakteristik Penafsiran
·         Langkah Penafsiran
4.      Telaah Metodologis Tafsir Qur’an
·         Jenis Tafsir (Naw’u at-Tafsir)
·         Metode Tafsir (Thariqah at-Tafsir)
·         Corak Tafsir (Lawn at-Tafsir)
·         Sumber (Mashodir)
·         Teknik Pemisahan (Al-Qism atau Al-Majmu’ah)
5.      Pendapat Ulama Tentang Tafsir Qur’an

C.    Tujan Pembahasan
1.      Mengetahui Profil Penulis Tafsir Qur’an
2.      Mengetahui Deskripsi Filologi Tafsir Qur’an
3.      Mengetahui dan Mengenal Kitab Tafsir Qur’an
4.      Mengetahui Telaah Metodologis Tafsir Qur’an
5.      Mengetahui Pendapat Ulama Tentang Tafsir Qur’an







BAB II
PEMBAHASAN
A.      Profil Penulis Tafsir Qur’an
1.      Riwayat Hidup H.Fachruddin HS.
Pada tahun ke-19 M. hidup seorang ulama yang cukup terkenal di Situjuh Batur bernama, H. Husein TuankuKhatib. Istrinya bernama Hj. Putiah Fatimah. Dari perkasinannya denagn Hj. Putiah Fathimah, H. Husen dikaruniai dua orang anak yaitu H. Fachruddin HS DT. Majo Indo dan Makinuddin HS. H.Fachruddin HS Datuk Majo Indo merupakan keturunan dara biru ulama. Disamping ayahnya, Tuanku Khatib, sebagai ulama yang disegani di Situjuh Batur, kakak ayah H.Fakhruddin HS Dt. Majo Indo yang bernama Ismail juga dikenal sebagai ulama yang berpengaruh didaerahnya pada masanya. Kakeknya yang terkena dengan sebutan Inyaik Datuk juga merupakan seorang ulama yang terkenal.
Sejak masa kanak-kanak H.Fachruddin HS Dt. Majo Indo, telah diperkenalkan oleh orang tuanya serta kakeknya tentang ilmu agama islam. Ketika berumur lima tahun, beliau telah diajarkan membaca Al-Qur’an dan sering dibawa ayahnha pergi berdakwah keberbagai tempat. Pelajaran agama yang dipelajari ketika H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo berumur 6 dan tujuh, disamping terus belajar membaca kitab Al-‘Afwan, beliau juga diajari membaca Arab Melayu. Pada tahun 1916, H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo masuk sekolah dasar biasa. Setelah menamatkan sekolah dasar biasa ini, selanjutnya H. Fachruddin HS Dt. Majo Indo belajar secara non-formal kebeberapa guru disekitar tempat tinggalnya. Pada tahun 1921 hingga tahun 1922, beliau belajar dengan Tuanku Mudo Hamzah disekitar sekolah diAir Tabit. Pada tahu 1921 hingga 1922, beliau mengajar dengan Tuanku MUdo Hamzah disebuahsekolah di Air Tabit. Pada btahun 1923 sampai 1927 beliau berguru kepada Engku Mudo Ahmad Karung.
Orang tua H.Fachruddin HS Dt Majo Indo mengingatkan anaknya untuk belajar agama Islam lebih mendalam ke pusat agama islam itu sendiri. Untuk itu H. Husein dan Hj. Putiah fathimah menyuruh anaknya pergi ke Mekkah belajar ilmu agama Islam. Namun, H.Fachruddin HS Dt Majo Indo menolak tanpa alasan yang cukup jelas. Tampaknya beliau lebih suka belajar disekolah biasa dan belajar dari satu guru keguru lainnya diberbagai surau.
Semasa hidupnya H. Fachruddin HS Dt Majo Indo telah memperistrikan 4 wanita, yaitu; pertama menikahi gadis sekampungnya yang bernama Itam. Pernikahan ini berlangsung saat H.Fachruddin berumur 17 tahun. Namun pernikahannya dengan itam tidak dikaruniai keturunan. Lalu yang kedua bernama Yulinun, ketiga bernama Nurhasanah dan istri yang keempat bernama bulan.
Dalam bidang pendidikan H.Fachruddin HS Dt Majo Indo ikut dalam ikatan pelajar Sumatra Thawalib dan dalam bidang politik dia pernah menjabat sebagai Ketua PERMI (Persatuan Muslim Indonesia) didaerah Payakumbuh Kab. 50 Kota. PERMI ini merupakan bentukan dari ikatan pelajar Sumatera Thawalib.[1]
2.      Riwayat Hidup H. Zainuddin Hamidy
Haji Zainuddin Hamidy lahir di Koto Nan IV payakumbuh pada tanggal 8 Februari 1907/24 Dzulhijjah 1324. Anak dari Abdul Hamid dan Halimah. Putra kedua dari dua orang bersaudara, kakaknya bernama Nahrawi, istri Imam Mukhtasar, seorang ulama terpandang didaerahnya. Dia memiliki 5 orang saudara sebapak, seperti Zainullah, Amiruddin, Salim, Mariam, dan Bermawi.Masa kecil dihabiskan Zainuddin Hamidy dikampung halamannya. Ia tumbuh dari keluarga yang tidak begitu religious, bahkan ayahnya dianggap seorang Pareman.Tapi, faktor lingkungan dan keuletannya dalam menuntut ilmu, membuat Zainuddin Hamidy kelak dikenal sebagai seorang ulama yang cukup berpengaruh. Disamping melewati pendidikan non formal tradisional yakni surau, Zainuddin Hamidy juga menempuh pendidikan formal. Selama lima tahun, ia sekolah disekolah government di payukumbuh.
Setelah tamat dari sekolah ini, Zainuddin Hamidy memasuki sekolah Darul Funun el-Abbasiy di Padang japing pimpinan Syekh Abbas. Madrasah Darul Funun ini merupakan sebuah lembaga pendidikan maupun dalam fasilitas yang digunakan. Sekolah ini telah memakai sistem klasikal dan para muridnya telah belajar dangan menggunakan fasilitas yang digunakan sekolah ini telah memakai sistem klasikal dan dimadrasah Darul Funun ini Zainuddin Hamidy belajarilmu tafsir, hadis, Bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya.
Zainuddin Hamidy adalah dikenal sebagai murid yang cerdas, seorang yang ramah tamah, konsekuen, ulet dan tidak pernah berputus asa. Beliau tidak banyak bicara hal-hal yang tidak perlu, beliau banyak tersenyum dan memiliki wibawa yang sangat besar. Beliau adalah ahli agama dan tokoh masyarakat yang selalu berpenampilan sederhana. Karena keluasan ilmu dan kealimannya, masyarakat Koto dan Ampek menggelari beliau dengan gelar “Angku Mudo” yang berarti seorang ahli agama yang masih muda. Kepada murid-muridnya, Buya Zainuddin Hamidy juga bersikap ramah dan santun. Sekalipun bersikap tenang dan santun, Namun Buya Zainuddin Hamidy terkenal sangat disiplin dalam mengajarkan pendidikan, baik kepada murid-muridnya bahkan juga kepada anak-anak beliau.
Hal ini terbukti, ketika ia duduk di bangku terakhir (kelas akhir), ia dipercaya untuk mengajar di kelas lima. Karena kepintarannya ini, pimpinan Madrasah Darul Funun Padang Jepang, Syekh Abdul Abbas menyuruh dan merekomendasikan Zainuddin Hamidy untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah. Sebelum berangkat ke Mekkah, Zainuddin Hamidy terlebihb dahulu menikah dengan Rahmah. Kelak, dari Rahmah, Zainuddin Hamidy memiliki 7 orang anak.
Sesampainya di Mekkah, ia menuntut ilmu agama di salah satu perguruan terkenal di masa itu, Ma’had Islamy. Zainuddin Hamidy merupakan orang Indonesia pertama yang sekolah di perguruan ini. Di perguruan ini ia belajar beberapa tahun. Setelah merasa cukup waktu dalam menuntut ilmu agama, Zainuddin Hamidy pulang ke kampung halamannya dalam usia yang relatif muda. Setelah sampai di Payakumbuh, beliau kemudian menikahi Desima Jasin. Dengan Desima Jasin ini kemudian Zainuddin Hamidy memiliki 7 orang anak.
Di kampung halamannya, Minangkabau, Zainuddin Hamidy mencurahkan pemikirannya dalam dunia pendidikan dan keagamaan. Terebukti, setelah kembali dari Mekkah, ia kemudian mendedikasikan ilmunya pada madrasah tempat pertama ia menuntut ilmu yang telah berganti nama dengan Darul Funun. Dia kemudian juga mendirikan lembaga pendidikan di Koto Nan IV Payakumbuh. Ma’had Islamy ini merupakan lembaga pendidikan islam yang awalnya bernama Diniyyah School. Pengambilan nama Ma’had Islamy ini dilatarbelakangi oleh romantisisme Syekh Haji Zainuddin Hamidy ketika ia mrenuntut ilmu di perguruan Ma’had Islamy Mekkah. Di bawah pimpinannya inilah Ma’had mengalami kemajuan yang sangat pesat dan membutuhkan banyak kelas untuk belajar.
Pada tahun 1940, gedung baru yang didanai secara sukarela dan patungan oleh masyarakat ini, selesai dibangun. Gedung baru ini berjumlah 10 lokal yang dibangun secara permanen, setelah gedung baru ini tuntas dibangun dan diresmikan pemakaiannya, pada tanggal 13 februari 1941 terjadi angin putting beliung yang merobohkan gedung yang baru dibangun tersebut. Kesedihan kemudian menghinggapi hati masyarakat dan para pengurus Ma’had Islamy, tak terkecuali Syeikh Haji Zainuddin Hamid. Untuk menenangkan hati masyarakat dan pengurus, Syekh Haji Zainuddin Hamidy berusaha untuk tampil tabah dan selalu mengatakan : “Asaa Rabunaa An Yubdillana Khairan Minhaa” semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik dari yang ini. Di bawah komando Syeikh Haji Zainuddin, mereka mulai kembali membangun gedung yang roboh tersebut. Untuk merealisasikan keinginan ini, maka dibentuk panitia pembangunan gedung baru. Panitia ini diketuai oleh Fachruddin HS Dt. Majo Indo, Ahmad Hamid Ibrahim, Arbi, Kari Lazim dan lain-lain, berkat kerja keras panitia dan dukungan dari masyarakat pada tahun 1942, gedung baru ini selesai dibangun.
Ia merupakan salah satu ulama ternama Sumatera Barat dan beberapa karya tulisnya, antara lain: Tafsir Al-Qaur’anul Karim, merupakan tafsir Al-Qur’an generasi pertama di Indonesia yang dikarangnya bersama-sama dengan Fakhruddin HS. Kemudian, terjemahan Shahih Bukhari, dilakukan bersama dengan Darwis Z. dan Fakhruddin HS, terjemahan hadits arba’in dan Musthala’ah Hadits.
B.       Deskripsi Filologi Tafsir Qur’an
Data filologis di bawah ini diambil dari kumpulan kitab tafsir yang ditemukan di Perpustakaan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan perincian sebagai berikut:
Nama Kitab: Tafsir Qur’an Naskah asli-terjemah-keterangan.
Pengarang: H. Zainuddin Hamidy dan Fachruddin H.S
Ukuran Kitab: 28 X 25 cm
Kondisi Kitab: Baik
Nomor Panggil Cover MCMLXVII
Halaman Kitab: XIV+963
Jumlah Kitab: 1 jilid : 2x1.3 HAM T: jilid biasa
Bahasa: Kitab ini menggunakan bahasa Indonesia
Penerbit: Widjaya Djakarta
Tahun Terbit: 1967
Sistematika kitab: Penulisan nomor halaman pojok kanan atas
·         Tafsir pada kitab ini ditulis dibawah bagian kitab seperti penulisan foot note.
·         Penulisan ayat berdampingan kiri kanan dengan terjemahan.
Kitab ini telah diterbitkan 4 kali cetakan pertama tahun 1955, cetakan kedua 1962, cetakan ketiga 1963, cetakan ke empat 1967. Yang diteliti ini adalah cetakan pada tahun keempat.
C.    Mengenal Kitab Tafsir Qur’an
a.       Latar Belakang Penulisan Tafsir Qur’an
Latar belakang penulisan kitab tafsir al-Qur’an ini adalah berawal dari niat penulis tafsir itu sendiri yang diniatkan sebagai satu sumbangan darmabakti untuk ketinggian agama islam seperti perkataan penulis dalam pengantar kitab tafsirnya:
“Penyusunan tafsir Qur’an ini bukanlah suatu hal yang ringan, melainkan kerja yang berat dan sulit. Dan penulisan ini menuntut study yang berbilang tahun dan penyusunannya memerlukan tenaga, pemikiran dan waktu yang cukup. Alhamdulillah, pekerjaan yang berat dan panjang ini telah dapat diselesaikan sebagai satu sumbangan dan darmabakti untuk ketinggian agama kita”.[2]    


b.      Karakteristik Penafsiran
Dalam menafsirkan ayat al-Qur’an dalam kitabnya, penulis tidak menafsirkan seluruh ayat tetapi hanya menafsirkan bagian-bagian ayat yang dianggap penting untuk ditafsirkan dan penafsirannya pun hanya secara umum tidak terperinci. Kitab ini masih menggunakan bahasa Indonesia yang belum baku atau sesuai dengan EYD sekarang.
Dalam permulaan kitab terdapat kata sambutan dari Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung, Syekh Ibrahim Musa Parabek yang ditulis tahun 1956, dan Haji Agus Salim yang menulis 3 tahun sebelumnya, 1953. Dengan demikian, tafsir ini sesungguhnya telah selesai disusun tahun 1953. Kemudian penulis membuat daftar surat sesuai dengan alphabet latin dan di bagian akhir kitab penulis menantumkan penunjuk isi, sesuai dengan alphabet, daftar surat dan isi yang terpenting.
c.       Langkah Penafsiran
Dalam penulisan kitab, penulis menggunakan langkah tartib mushafi di mana dituliskan nomor surat, nama surat, serta arti dari nama surat itu sendiri, jumlah ayat, dam tempat turun Makkiyah-Madaniyyah.
D.    Karya H. Zainuddin Hamidy
Syaikh Zainuddin Hamidy dikenal luas ahli agama, hafiz, ahli hadits, pengarang, disamping sebagai tokoh pendidikan. Sering pula beliau disebut sebagai politikus, organisator, pemikir yang berpandangan jauh jauh ke depan dan berpikir jernih. Selain aktif dalam mengajar, Zainuddin Hamidy juga banyak menulis buku. Sayangnya buku-buku ini banyak yang hilang ketika Belanda dan Jepang mengobrak-abrik pesantren Ma’had Islamy dan rumah Buya Zainuddin Hamidy. Beberapa karya tulisnya yaitu, antara lain:
1.      Terjemahan al-Qur’an Karim, merupakan Tafsir Al-Qur’an pertama di Indonesia yang dikarangnya bersama-sama dengan Fakhruddin HS berdasarkan periodisasi tafsir di Indonesia, tafsir ini  merupakan generasi ke-IV yakni abad-20 jadi dikarang sekitar tahun 1963-an.[3]
2.      Shahih Bukhari, beliau karang bersama Darwis Z dan Fakhruddin HS tahun terbit kedua 2006.
3.      Terjemahan Hadits Arba’in, kitab tauhid dan Musthalahul Hadits, kitab terakhir ini merupakan salah satu pegangan beliau ketika mengajar ilmu hadits di Training Collage Payakumbuh dan PGA A Bukittinggi.[4]

E.     Telaah Metodologis Tafsir Qur’an
a.       Jenis Tafsir (Naw’u at-Tafsir)
Tafsir Qur’an Karim karya Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS dalam menafsirkan al-Qur’an ini tidak dijelaskan secara eksplisit dalam kitab tafsirnya ini, apakah tafsir bi al-riwayah, tafsir bi al-ra’yi, atau tafsir bi al-isyari. Dari pengamatan penulis terhadap penafsiran Hamidy dan Fachruddin dalam menafsirkan al-Qur’an, jenis tafsir yang digunakan oleh beliau adalah tafsir bi al-ra’yi/ bi al-ijtihadi.
b.      Metode (Thariqah)
Di dalam Tafsir Qur’an ini penulis menggunakan sistematika ijmali dan menafsirkan kata yang dianggap penting. Penulis dalam menulis tafsirnya banyak mengutip dari kitab-kitab tafsir yang terkenal dalam dunia Islam seperti, Tafsir al-Kabir, Tafsir Fathul Qadir, Tafsir Ruhul Ma’ani, Tafsir al-Qur’an Nul ‘Azim, Tafsir al-Manar, dan Tafsir al-Jawahir. Sementara dalam bahasa asing (barat) penulis mengambil dari kitab tafsir THE HOLY QUR’AN oleh A. Yusuf Ali, THE HOLY QUR’AN oleh Maulvi Muhammad Ali M.A, dan The Meaning Of The Glorious Koran oleh Muhammed Marmaduke Pickthall, dll.[5]
Dari hasil kajian terhadap metode tafsir Zainuddin Hamidy, bila ditinjau dari sudut sistematika penulisannya, jelas beliau menggunakan metode tahlili, karena beliau menafsirkan ayat al-Qur’an secara urut sesuai dengan urutan ayat dan surat dalam al-Qur’an, yaitu dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Naas.
c.       Corak (Lawn)
Tafsir Qur’an Karim karya Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS ini walaupun tidak secara nyata mengarah kepada salah lawn (corak) yang ada, paling tidak secara keseluruhan yang tergambar dari uraiannya menuju pada lawn (corak) sosial kemasyarakatan (Adabi-Ijtima’i).[6]
d.      Sumber (Mashodir)
Sumber dari kitab hadits diambil dari beberapa kitab seperti, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab hadits lainnya. Dan diantara kitab-kitab lainnya yaitu al-Mufradat Fi’qharibil Qur’an karya al-Asfahani, Mu’jam Gharibil Qur’an oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi dan Mu’jam al-Qur’an oleh Abdul Rauf al-Misry. Dan di dalam kitab ini juga banyak didorong oleh para ulama seperti, Haji Agus Salim dan Syekh Ibrahim Musa.[7]
e.       Teknik Pemisahan (Al-Qism atau Al-Majmu’ah)
Tafsir Qur’an Karim karya Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS, bila ditinjau dari sudut sistematika penulisannya, jelas beliau menggunakan teknik Al-Majmu’ah (satu pembahasan).
F.     Pendapat Ulama Tentang Tafsir Qur’an
Syekh Ibrahim Musa berpendapat tentang Kitab Tafsir Qur’an ini seperti yang beliau katakan, “Setelah saya perhatikan Tafsir Qur’an yang diusahakan oleh saudara Fachruddin HS dan H. Zainuddin Hamidy, baik tentang isi atau susunannya, dapatlah saya kemukakan disini, bahwa usaha ini telah membukakan pintu dan memberi jalan untuk mendapat ilmu dan hikmah yang terkandung di dalam al-Qur’an, terutama bagi mereka yang tiada dapat memahami dari bahasanya yang asli. Tentulah usaha ini akan mendapat sambutan dari masyarakat, sebagai satu sumbangan yang berharga dalam memperluas pengetahuan dan memperdalam jiwa ke-islaman di tanah air kita ini.[8]
Haji Agus Salim sangat memuji apa yang telah dilakukan dua ulama ini. “Dengan ikhlas hati saya memujikan tafsir Qur’an yang disusun oleh Fachruddin HS ini kepada perhatian peminat-peminat pengajaran agama, terutama kepada guru-guru. Supaya baiknya mendapat penghargaan, salahnya mendapat teguran, sehingga penyusunannya mendapat tuntunan untuk melanjutkan perhatiannya kepada ilmu Qur’an yang sangat berguna itu. Dan supaya pekerjaannya menjadi berguna pula untuk perkembangan agama di tanah air kita ini”.[9]














BAB III
PENUTUP
v  Kesimpulan
Dari pengamatan penulis terhadap penafsiran Hamidy dan Fachruddin dalam menafsirkan al-Qur’an, jenis tafsirnya adalah tafsir bi al-ra’yi/bi al-ijtihadi. Jika ditinjau dari sudut sistematika penulisan dan penafsirannya, Metode (Thariqah) tafsirnya jelas beliau menggunakan metode tahlili, karena beliau menafsirkan ayat al-Qur’an secara urut sesuai dengan urutan ayat dan surat dalam al-Qur’an, yaitu dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Naas. Lawn (Corak) Tafsir Qur'an Karim karya Zainuddin Hamidy dan Fachruddin Hs ini walaupun tidak secara nyata mengarah kepada salah lawn yang ada, paling tidak secara keseluruhan yang tergambar dari uraiannya menuju pada lawn sosial kemasyarakatan (Adab Ijtima'i).Dan jika ditinjau dari sudut sistematika penulisannya, teknik pemisahan (Al-Qism) tafsirnya jelas beliau menggunakan teknik Al-Majmu’ah (satu pembahasan).
Demikianlah pembahasan makalah yang dapat kami paparkan. Dan tentunya masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan baik dari susunan isinya maupun dalam penyampaiannya. Maka dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan, dan semuga makalah ini dapat menambah wawasan kita. Aamiin.








DAFTAR PUSTAKA
Amir, Mafri. Literatur Tafsir Indonesia, Ciputat: Mazhab Ciputat, 2013
Shahib, Muhammad dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga al-Qur’an, Jakarta: Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an, September 2011 M
Hiamat Israr, Angku Mudo H. Zainuddin Hamidy Pejuang Agama dan Pendiri Ma’had Islami Payakumbuh, Bandung: Budaya Media, 2010 M
http://thkhusus.wordpress.com/2010/01/03/sekilas-tafsir-di-indonesia/, diaskes pada hari selasa, tgl 3 juli 2012, jam 3.08 pm
Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an: Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 434













سورة الفاتحة
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)
 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2)
 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3)
 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)
 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)
 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)
 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)






Surat 1
AL FATIHAH (PEMBUKAAN)[10]
Turun di Mekkah, banjaknja 7 ajat.
1.      Dengan nama Allah jang pemurah dan penjajang[11].
2.      Segenap pudjian untuk Tuhan, pemimpin semesta alam[12].
3.      Jang pemurah penjajang.
4.      Jang memerintahi hari pembalasan[13].
5.      Hanjalah engkau jang kami sembah, dan kepada engkau sadja kami memohon pertolongan.
6.      Pimpinlah kami kedjalan jang lurus.
7.      Djalan mereka jang engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan djalan orang-orang jang dimarahi (dimurkai) dan bukan djalan orang-orang jang sesat (tidak tahu jalan)[14].





[1] Tim Peneliti FIEA IAIN Padang
[2] Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS, “Tafsir Quran’ Widjaya Djakarta,tahun 1955
[3]http://thkhusus.wordpress.com/2010/01/03/sekilas-tafsir-di-indonesia/, diaskes pada hari selasa, tgl 3 juli 2012, jam 3.08 pm.
[4]Muhammad Shahib dan M. Bunyamin Yusuf Surur, Para Penjaga Al-Qur’an: Biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, (cet. I; Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, September 2011 M), hal. 434
[5] Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS, “Tafsir Quran/’ Widjaya Djakarta,tahun 1955
[6] Dr. Mafri Amir, MA, Literatur Tafsir Indonesia
[7] Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS, “Tafsir Quran’ Widjaya Djakarta,tahun 1955
[8] Dalam sambutan Ibrahim Musa Parabek.
[9] Agus Salim dalam sambutannya.
[10] Surat ini dinamakan Al Fatihah (pembukaan) atau Fatihatul Kitab (pembukaan Kitab) karena itulah surat pertama dalam susunan Al-Qur’an.  Djuga dinamakan Ummul Kitab, artinja Ibu Kitab atau Pokok Kitab, karena mengingat luas isi dan tudjuan Al fatihah jang mengandung isi dari qur’an seluruhnja. Djuga dinamakan As sab’ul Matsani atau Sab’an minal matsani, artinja tudjuh jang diulang-ulang, karena Al-Fatihah itu adalah tudjuh ajat jang terus diulang-ulang membatjanja setiap raka’at dalam sembahjang .
,,Dan sesungguhnja telah kami berikan kepada engkau (Muhammad) tudjuh jang diulang-ulang (sab’an minal matsani) dan quran besar. (15:87).

[11] Allah ialah nama Tuhan jang Maha Esa dan Maha Kuasa. Pada umumnja perkataan Allah disalin dengan perkataan Tuhan. Rahman artinja jang banjak melimpahkan kebaikan.  Rahim artinja jang mempunjai perasaan kasih sajang (penjajang). Setiap surat dalam Al-qur’an dimulai dengan Bismillahir rahmanir Rahim, selain dari surat 9(Baraa). Ketika hendak memulai sesuatu pekerdjaan atau membatja, kita membatja Bismillahir rahmanir Rahim, berarti bahwa kita membatja atau memulai perkerdjaan itu dengan nama tuhan, karena mengingat perintahnya, serta kemurahan dan kasih sajangnja kepada alam semesta ini.
[12]Rabb artinja pentjipta dan djuga pemelihara. Pengatur dan pendidik, jang menjusun dan mengatur segala sesuatu dengan sebaik-baiknja dalam menudju kesempurnaan. Djadi Rabb itu berarti Pemimpin atau Pengatur, dan biasa  djuga diartikan orang dengan perkataan Tuhan. Al-‘alamin berarti alam semesta dan diantaranja bangsa-bangsa manusia, djin dan malaikat.
[13]Malik artinja jang memerintahi, dan Malik artinja jang mempunjai. Jaumiddin artinja hari pembalasan, jaitu achirat sehabis kehidupan dunia ini, dan ketika itu setiap manusia menerima pembalasan, jaitu hari achirat sehabis kehidupan dunia ini, dan ketika itu setiap manusia menerima pembalasan amalnja, jang baik dan jang buruk.
[14] Sehabis mmembatja Fatihah ini dibatja ‘’Amin!” artinja: Terimalah permohonan kami!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar