PSIKOLOGI AGAMA
Makalah ini Diajukan untuk Memenuhi Tugas UTS (Ujian Tengah Semester) pada Mata Kuliah : Psikologi Agama
DosenPembimbing :Dra. Marzuqoh, M.A.
Disusun Oleh :
Fikri Ihsan
NIM : 1113034000189

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN
DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Allah swt yang telah memberi rahmat dan hidayah-Nya serta kesehatan, keselamatan
kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Semata-mata untuk menyempurnakan materi kuliah Psikologi Agama, dalam
bentuk makalah yang berjudul “Pengantar Psikologi Agama”.
Penulis berharap apa yang
telah penulis paparkan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
para pembaca umumnya. Tak lupa pula penulis ucapkan ribuan terima kasih kepada
Bapak dosen yang telah memberikan ilmunya dan pengarahannya serta bantuannya
kepada penulis dalam penyelesaian tugas ini.
Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Untuk itu, saran
dan kritik yang bersifat memperbaiki dari para pembaca sangat penulis harapkan.
Atas segala perhatiannya
penulis ucapkan terima kasih. Penulis berharap semoga penyajian makalah penulis
ini dapat diterima bagi para pembaca. Semoga Allah swt senantiasa memberikan
rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.
Jakarta,
13 Oktober 2016
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………i
DAFTAR ISI………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………….........1
1. LatarBelakang………………………………………………………....….......1
2. RumusanMasalah……………………………………………………………..2
3. TujuanMasalah…………………………………………………………..........3
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………..............4
A.
Pengertian dari Psikologi Agama......................................................................4
B.
Sejarah Perkembangan Psikologi Agama…………………………………….11
C.
Ruang Lingkup dari Psikologi Agama…………………………………….....13
D.
Fungsi dari Psikologi Agama…………………………………………………14
E.
Tujuan dari psikologi agama………………………………………………….15
F. Metode Penelitian dari Psikologi Agama……………………………………..15
G. Teori Ilmu Jiwa Agama…………………………………………………..........19
H. Objek Kajian dari Psikologi Agama...................................................................20
BAB III PENUTUP………………………………………………....................24
KESIMPULAN………………………………………………………….....24
DAFTAR
KEPUSTAKAAN…………………………………………………...25
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia
tampil dimuka bumi ini sebagai homo religius yang mempunyai
makna bahwa ia memiliki sifat-sifat religius. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
yang paling dasar, manusia mempunyai dorongan dan kekuatan guna mendapatkan
keamanan hidup pemenuhan kebutuhan di bidang keagamaan.
Pada
hakekatnya manusia adalah makhluk yang spesifik, baik dilihat dari segi fisik
maupun nonfisiknya. Ditinjau dari segi fisik, tidak ada makhluk lain yang
memiliki tubuh sesempurna manusia. Sementara dari segi nonfisik manusia
memiliki struktur ruhani yang sangat membedakan dengan makhluk lain.
Jasmani
atau fisik manusia dikaji dan diteliti oleh disiplin anatomi, biologi, ilmu
kedokteran maupun ilmu-ilmu lainnya,sedangkan jiwa manusia dipelajari secara
khusus oleh psikologi. Menurut asal katanya, psikologi berasal dari
bahasa Yunani kuno, psyche yang berarti jiwa dan logos yang
berarti ilmu. Jadi psikologi adalah ilmu tentang jiwa. Para ahli psikologi
modern saat ini tidak mengartikan psikologi sebagai ilmu tentang gejala dan
aktivitas jiwa manusia. Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan
karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua
unsur somatik, psikologik, dan sosial.
Psikologi
secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa”
dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan
istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya
daripada istilah al-ruh. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab
menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah
ini memiliki asumsi yang berbeda.
Psikologi
menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.Menurut Wilhem Wundt (tokoh
eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari
pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti penggunaan
pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya.
Menurut
Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap
sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang,
karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak
dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi
pribadi.
Belajar
psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi
hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya, bagaimana prilaku dan
kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya.
Mengapa
manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak, apakah ketidak percayaan ini
timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan
hidup, dan pengalaman hidupnya.
Salah
satu cabang ilmu jiwa yang masih muda, ilmu jiwa Agama sampai sekarang
masih belum mendapat yang wajar. Masih banyak ahli-ahli jiwa yang tidak
mengakui adanya cabang ilmu jiwa, yang berdiri sendiri yang khusus membahas dan
menyoroti masalah agama. Namun cabang ilmu jiwa yang masih muda ini tetap hidup
dan berkembang untuk meneliti dan menjawab berbagai macam persoalan, yang ada
sangkut pautnya dengan keyakinan beragama. Berapa banyaknya peristiwa-peristiwa
dan kejadian-kejadian yang sukar untuk dimengerti tanpa menghubungkannya dengan
agama.
Untuk
menjawab semua persoalan-persoalan yang berhubungan dengan keyakinan itulah,
maka ilmu jiwa agama perlu meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada
seseorang dan mempengaruhi berapa besar pengaruh keyakinan agama tersebut dalam
sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Psikologi agama
sangat berpengaruh dan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan
tersebut.
Dalam
hal ini akan dijelaskan bagaimana pengertian psikologi agama yang akan dibahas
dalam makalah ini. Penulis berharap ada tujuan akhir yang akan dicapai dalam
mempelajari psikologi agama sehingga makalah ini bermanfaat dalam memahami
psikologi agama. Penulis juga bertujuan mengajak para pembaca untuk memahami
agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari psikologi agama?
2. Bagaimana sejarah perkembangan psikologi
agama?
3. Apa ruang lingkup dari psikologi agama?
4. Apa fungsi dari psikologi agama?
5. Apa tujuan dari psikologi agama?
6. Bagaimana metode penelitian dari psikologi
agama?
7. Apa teori ilmu jiwa agama?
8. Apa objek kajian dari psikologi agama?
C. Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui pengertian dari psikologi agama.
2.
Untuk mengetahui sejarah perkembangan psikologi agama.
3.
Untuk mengetahui ruang lingkup dari psikologi agama.
4. Untuk mengetahui fungsi dari psikologi agama?
5. Untuk mengetahui tujuan dari psikologi agama?
6.
Untuk mengetahui dari metode penelitian psikologi agama
7.
Untuk mengetahui teori ilmu jiwa agama
8.
Untuk mengetahui objek kajian psikologi agama.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Psikologi Agama
Pada awalnya, psikologi merupakan
cabang dari filsafat, karena filsafat merupakan induk dari segala cabang ilmu.
Dalam tahap selanjutnya psikologi
berdiri sebagai cabang ilmu tersendiri dan pengertiannya lebih mengarah pada
pengertian tentang ilmu yang mempelajari proses mental yang tampak dalam
perilaku. Karena keterbatasan manusia dalam pemahamannya tentang jiwa (ruh),
para ahli berbeda pendapat dalam memberikan definisi tentang psikologi. Namun
secara umum, psikologi adalah ilmu penggetahuan yang mempelajari tingkah laku
dalam berhubungan dengan lingkungannya.
Dalam perkembangan selanjutnya, para
ahli melihat bahwa psikologi memiliki keterkaitan dengan masalah-masalah yang
menyangkut kehidupan bathin manusia yang dalam, yaitu Agama. Para ahli kemudian
memunculkan studi khusus tentang hubungan antara kesadaran agama dan tingkah
laku. Zakiah Daradjat misalnya, menampilkan beberapa peristiwa yang sukar
dimengerti tanpa dihubungkannya dengan agama. Sebagai contoh ada orang yang
tampaknya senang, suka menolong dan bahagia, padahal hidupnya sangat sederhana,
makan secukupnya, pakaian sederhana, alat-alat dan perabotan rumah tangganya
kurang dari sederhana. Tengah malam ia bangun untuk mengabdi kepada Tuhan,
sebelum waktu subuh, ia telah duduk pula ditikar sholatnya. Sebaliknya tidak
jarang diijumpai seseorang yang kehidupannya lebih dari cukup, atau boleh
dibilang berlebih, tapi dlaam hatinya penuh kegoncangan dan jauh dari kepuasan.
Lebih jauh dijelaskan bahwa hubungan antara moral dan agama sebenarnya sangat
erat. Biasanya orang-orang yang mengerti tentang agama dan rajin
melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, moralnya dapat
dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, orang yang akhlaknya merosot, biasanya
keyakinan terhadap agamanya kurang atau tidak ada sama sekali.
Berangkat dari
permasalahan-permasalahhan seperti itulah, akhirnya psikologi banyak membahas
atau mengkaji tentang agama. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkap
tingkah laku manusia dalam kaitannya dengan kehidupan beragama.[1]
Ketika mengkaji psikologi agama
seseorang dihadapkan pada dua kata, yakni “psikologi” dan “agama”. Kedua kata
tersebut memiliki pengertian dan penggunaan yang berbeda, meskipun keduanya
memilki aspek kajian yang sama yaitu aspek batin manusia.[2]
Psikologi agama terdiridaridua kata yaitupsikologidan
agama. Psikologiberasaldaribahasayunaniyaitu “Psyche”dan
“logos”. “Psyche” yang artinyajiwadan“logos” yang
artinyailmupengetahuan. Jadi, psikologiadalahilmu yang
mempelajaritentangjiwabaikmengenaimacam-macamgejalanya, proses
maupunlatarbelakang.
Psikologisecaraetimologimengandungartiilmutentangjiwa.Dalam
Islam kata jiwadisamakandengan“an-nafsu” namunada juga yang
menyamakandenganistilah “ar-ruh”. Tetapiistilah “an-nafsu” lebih
popular daripadaistilah “ar-ruh”,
karenapsikologidalambahasaarablebih popular diterjemahkandenganilmu
an-nafsudaripadailmuar-ruh. Dalam Al-Quran surat Al-Fajrayat 27-30 disebutkan,
kata an-nafsuberartijiwa.
يَٰأَيَّتُهَاٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّة. ٱرْجِعِى إِلَىٰرَبِّكِرَاضِيَةً
مَّرْضِيَّةً.فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى. وَٱدْخُلِى جَنَّتِى.
“Hai jiwa yang tenang. KembalilahkepadaTuhanmudenganhati
yang puaslagidiridhai-Nya.Makamasuklahkedalam Jemaah hamba-hamba-Ku,
danmasuklahkedalamsurga-Ku”.(QS. Al-Fajr (89): 27-30)
Psikologiberartistudiilmiahatasgejalakejiwaanmanusia.Sebagaikajianilmiah,
psikologijelasmempunyaisifatteoritik-empirikdansistematik.Sedangkan agama
merupakansuatuaturan yang menyangkutcara-carabertingkahlaku,
berperasaandanberkeyakinansecarakhusus.
Setidaknya agama menyangkutke-ilahi-an. Maksudnya,
agamamenyangkutsegalasesuatu
yang bersifatketuhanan.Sedangkanpsikologimenyangkutmanusiadanlingkungannya. Agama bersifat transenden,
psikologi bersifat profan. Oleh karena itu, psikologi tidak bisa memasuki
wilayah ajaran keagamaan. Alasannya, psikologi dengan watak keprofanannya itu
sangat terikat dengan pengalaman dunia, sementara agama merupaka urusan Tuhan
yang sudah tentu mengatasi semua pengalaman tersebut.
Disinilah sebenarnya tempat
permasalahan timbulnya konflik pada awal kemunculan disiplin psikologi agama.
Konflik tersebut timbul karena kurangnya pemahaman terhadap hakekat psikologi
agama. Memang telah disadari merumuskan definisi suatu ilmu yang mencakup
dua substansi ilmu yang berbeda watak
tidaklah mudah. Bila pendefinisian tersebut keliru, bisa jadi akan menimbulkan
kesan penggerogokan wilayah agama yang transenden. Ini jelas akan menimbulkan
kemarahan besar dari kalangan ahli agama.[3]
Sebelum kita membahas tentang Agama
Dan Psikologi Agama, ada baiknya kita menengok kebelakang dulu untuk mengetahui
tentang pengertian masing-masing kata baik Agama, Psikologi maupun Psikologi
Agama menurut para ahli.
Agama berasal dari kata latin
religio, yang dapat berarti obligation
atau kewajiban.
Agama dalam Encyclopedia of
Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa
dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral
dengan umat manusia (James Martineau).[4]
Agama seseorang adalah ungkapan dari
sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh
kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird).[5]
Agama hanyalah upaya mengungkapkan
realitas sempurna tentang kebaikan
melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley).[6]
Agama adalah pengalaman dunia dalam
seseorang tentang ke-Tuhanan disertai keimanan dan peribadatan.[7]
Jadi agama pertama-tama harus
dipandang sebagai pengalaman dunia dalam individu yang mengsugesti esensi
pengalaman semacam kesufian, karena kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan
sebagai supernatural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih
bersifat personal atau pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang.
Yang kedua adalah adanya keimanan,
yang sebenarnya intrinsik ada pada pengalaman dunia dalam seseorang. Kemudian
efek dari adanya keimanan dan pengalaman
dunia yaitu peribadatan.
Agama dari segi bahasa yang dapat
dibahas dalam uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya agama dikenal
dengan kata din bahasa Arab dan kata
religi dalam bahasa Eropa.
Menurut satu pendapat, demikian
Harun Nasution mengatakan, kata Agama tersusun dari dua kata, a = tidak dan gam
= pergi, jadi Agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun
temurun. Selanjutnya agama dikatakan sebagai tuntunan. Selanjutnya din dalam
bahasa semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini
mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan.
Drai pengertian tersebut berarti kandungan yang merupakan hukum yang harus
dipatuhi penganut Agama yang bersangkutan.
Harun Nasution menyimpulkan dimensi
Agama ialah[8] :
1.
Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus
dipatuhi
2.
Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
3.
Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu
sumber yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan
manusia.
4.
Kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5.
Sistem suatu tingkah laku yang berasal dari kekuatan ghaib.
6.
Pengakuan adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu
kekuatan ghaib.
7.
Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan
perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia
8.
Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusai melalui seorang Rasul.
Selanjutnya Harun Nasution
merumuskan ada empat unsur yang terdapat dalam agama yaitu:
a.
Kekuatan ghaib, yang diyakini berada diatas manusia. Didorong oleh
kelemahan dan keterbatasannya, manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan
cara menjaga dan membina hubungan baik dengan kekuatan ghaib tersebut. Sebagai
realisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan ghaib
itu.
b.
Keyakinan tehadap kekuatan ghaib sebagai penentu nasib baik nasib buruk
manusia. Dengan demikian manusia berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar
kesejahteraan dan kebahagiaannya terpelihara.
c.
Respon yang bersifat emosional dari manusia. Respon ini dalam realisasinya
terlihat dalam bentuk penyembahan karena didorong oleh perasaan takut (agama
primitif) atau pemujaan yang didorong oleh perasaan cinta (monoteisme), serta
bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya.
d.
Paham akan adanya yang kudus dan suci. Sesuatu yang kudus dan suci ini
adakalanya berupa kekuatan ghaib, kitab yang berisi ajaran agama, maupun
tempat-tempat tertentu.[9]
Adapun bentuk kepercayaan yang
dianggap sebagai Agama, tampaknya memang memiliki ciri umum yang hampir sama,
baik dalam Agama primitif maupun Agama monoteisme. Menurut Robert H.Thouless
dalam kaitannya dengan psikologi Agama, ia mengatakan Agama adalah sikap (cara
penyesuaian diri terhadap dunia yang mencakup acuan yang menunjukkan lingkungan
lebih luas daripada lingkungan dunia fisik yang terikat ruang dan waktu).
Beranjak dari kedua pengertian
psikologi dan Agama, maka psikologi agama dapat diartikan sebagai Psikologi
yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan
terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia
masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut
dilakukan melalui pendekatan psikologi melalui penelaahan yang merupakan kajian
empiris.
Psikologi Agama sebagai salah
satu cabang ilmu dari psikologi juga merupakan ilmu terapan. Psikologi Agama
sejalan dengan ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam
memecahkan persoalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang
dianut.
Berapapun macam definisi Agama
dalam psikologi Agama yang diberikan para ahli, namun bagi kita yang penting
adalah Agama yang dirasakan dengan hati, pikiran, dan dilaksanakan dalam
tindakan serta memantul dalam sikap (yang menjadi kajian psikologi Agama) dan
cara menghadapi hidup pada umumnya, atau dengan ringkas yang kita teliti adalah
proses kejiwaan terhadap Agama dan pengaruhnya dalam hidup pada umumnya.
Adanya keterkaitan yang erat
antara psikologi dan Agama. Bila ditinjau dari pengertiannya Psikologi adalah
ilmu yang mempelajari tingkah laku sedangkan agama dapat diartikan sebagai
suatu keyakinan terhadap suatu ajaran. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan
bahwa pemahaman perilaku keagamaan yang mana agama dapat mempengaruhi tingkah
laku manusia baik dalam kehidupan bermasyarakat, berkelompok dan berbudaya juga
dalam kehidupan beragama.
Tidak ada satupun definisi
tentang agama (religion) yang dapat diterima secara umum, karena para
filsuf, sosiolog, psikolog merumuskan agama menurut caranya masing-masing,
menurut sebagian filsuf religion adalah ”Supertitious structure of incoheren
metaphisical notion. Sebagian ahli
sosiolog lebih senang menyebut religion sebagai ”collective expression of
human values”. Para pengikut Karl Marx mendifinisikan Religion sebagai “the
opiate of people”. Sebagian Psikolog menyimpulkan religion adalah mysticalcomplex
surrounding a projected superego” disini menjadi jelas bahwa tidak ada
batasa tegas mengenai agama/religion yang mencakup berbagai fenomena religion.
Menurut Einstein, pada pidato
tahun 1939 di depan Princeton Theological seminar, ”ilmu pengetahuan hanya
dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai
kebenaran dan pemahaman, tetapi sumber perasaan itu berasal dari tataran agama,
termasuk didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang
berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional, artinya dapat dipahami akal.
Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan
yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa
ilmu pengetahuan buta
Beragama berarti melakukan dengan
cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital betapapun tentative
dan tidak lengkap pada apapun yang ditanggapi atau yang secara implicit atau
eksplisit dianggap layak diperhatikan secara serius dan sungguh-sungguh (Vergulius
Ferm)
Psikologis atau ilmu jiwa
mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek
ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian,
manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan
alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu ,
manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi,
person yang sedang berkembang, yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia
yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian, ilmu
pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama, sesuai dengan
banyaknya dimensi kehidupan insani , psikologi dapat dibagi menjadi beberapa
cabang
Kepercayaan dan pengamalannya
sangat beragam antara tradisi yang utama dan usaha dalam mendifinisikan agama
itu sendiri secara keseluruhan yang sempurna. Agama sendiri menurut bahasa
latin berasal dari kata religio, yang dapat di artikan sebagai kewajiban atau
ikatan
Menurut Oxford English
Dictionary, “religion represent the human recognition of super human
controlling power, and especially of a personal God or Gods entitle to
obedience and worship”, agama menghadirkan manusia yang kehidupannya di
kontrol oleh sebuah kekuatan yang disebut Tuhan atau para dewa-dewa untuk patuh
dan menyembahnya.
Psikologi agama merupakan bagian
dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut
pautnya dengan keyakinan beragama, dengan demikian psikologi agama mencakup dua
bidang kajian yang sama sekali berlainan, sehingga ia berbeda dari cabang
psikologi lainnya
Psikologi agama tidak berhak
membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai
tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa
depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena
tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris,
tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti
tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak
menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat
diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Psikologi dapat
menguraikan iman agama kelompok atau iman individu, dapat mempelajari
lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan, tingkah laku keagamaan,
atau pengalaman keagamaan, pengalaman keagamaan, hukum-hukum umum tetang
terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris
lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan
perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan.
Secara umum psikologi diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa yang normal, dewasa dan beradab.
Psikologi agama meneliti dan menelaah
kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh
keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada
umumnya. Disamping itu psikologi juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan
jiwa agama pada orang serta faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.
Untukmengetahuibagaimanapengertianpsikologi agama
secarabenardanlengkap, berikutiniakandikemukakanpendapatbeberapaahli.
Menurut Jalaludin danRamayulis,
psikologi agama adalahsebagaiilmujiwa yang khususmengkajisikapdantingkahlakuseseorang
yang timbuldarikeyakinan yang dianutnyaberdasarkanpendekatanpsikologi.
Menurut Zakiah Daradjat,psikologi
agama ialahilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau
mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara orang berpikir,
bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku, tidak dapat dipisahkan dari
keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
Menurut Robert H. Thouless,
psikologi sekarang digunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan
pengalaman manusia.
John Broadus Waston,
memandang psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku
tampak (lahiriah) dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap
rangsangan dan jawaban.
Dari
beberapa pendapat mengenai definisi psikologi agama, maka dapat disimpulkan
bahwa psikologi agama dengan demikian merupakan cabang psikologi yang meneliti
dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan
terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia
masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut
dilakukan melalui pendekatan psikologi. Jadi penelahaan tersebut merupakan
kajian empiris.
B. Sejarah PerkembanganPsikologi Agama
Sumber-sumber Barat mengungkapkan
bahwa penelitian secara ilmiah tentang agama dimulai dari kajian para
anthropolog. Hasil penelitian Frazer dan Taylor mengenai agama-agama primitif
dinilai sebagai gerakan awal dari kajian itu. Selanjutnya sejumlah penelitian
juga dilakukan oleh para sosiolog, dan juga ahli psikologi seperti Stanley
Hall. Tetapi Edwin Diller Starbuck dipandang sebagai peletak dasar bagi
peneliti modern dilapangan psikologi agama. Bukunya yang memuat pembahasan
mengenai pertumbuhan perasaan agama yang berjudul The Psychology of
Religion, An Empirical Study of Growth of Religion Counsciousness. Buku
yang diterbitkan tahun 1899 tersebut dianggap sebagai buku pertama mengenai
psikologi agama oleh kalangan ahli psikologi agama Barat.
Walaupun secara formal pembahasan
tentang psikologi agama di dunia Timur (Islam) sama sekali tidak ditemukan, hal
ini bukan berarti pada masa itu psikologi agama belum dibicarakan sama sekali.
Dari hasil penelitian AE. Afifi ditemukan, bahwa ternyata dalam filsafat mistis
Ibnu Arabi telah banyak diuraikan butir-butir kajian kejiwaan yang tidak jauh
berbeda dengan yang dikaji dalam psikologi modern.Ibnu Arabi sudah membahas
psikologi empiris, sifat-sifat dan fungsi- fungsi jiwa, dan teori tentang mimpi
yang banyak diungkapkan oleh Sigmund Freud. Walaupun pembicaraan mengenai
butir-butir psikologi tersebut sangat lekat dengani penghayatan sufistiknya,
namun hal itu jelas mempunyai arti sangat penting bagi kajian psikologi agama
dan kesehatan mental.
Bahasan seputarpengaruh ajaran agama
terhadap kehidupan keagamaan banyak ditemukan dalam buku Ihya U`lum
Al-Din dan Al-Munqidz Al-Dhalal karangan Abu Hamid
Al-Ghazali. Di dalam buku itu ia tidak hanya menguraikan ajaran agama terhadap
kehidupan agama, tetapi lebih dari itu dalam kedua buku tersebut ditemukan
tentang pengahayatan Al-Ghazali sendiri terhadap adanya pengaruh ajaran agama
terhadap kehidupan keagamaan.
Konversi al-Ghazali, yang dipahami
sebagai masa pematangan beragama seseorang sebenarnya merupakan bagian integral
kajian psikologi agama. William James tampaknya juga tidak melupakan aspek
penting dari kajian psikologi agama ini.
Kesehatan mental yang merupakan
bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan psikologi agama, juga banyak dibahas
oleh para ilmuan muslim. Ibnu Sina sebagai filosof dan dikter sudah
mendiskusikan hal itu dalam buku al-Syifa’ (the book of healing).
Menurut Ibnu Sina, kebahagiaan itu sangat integral dengan akhlak. Kebahagiaan
akan dipeeroleh bila seseorang mampu memilih yang baik dan menyingkirkan yang
tidak baik. Penyucian dan pembersihan kalbu merupakan kunci utama.
Al-Razi sebagai seorang filosof sufi
juga telah membahas tentang psikotherapi. Hal itu dapat ditemukan dalam bukunya
al-Thib al-Ruhanty. Dalam buku tersebut, sesuai dengan judulnya Penyembuhan
Jiwa, Razi menguraikan perihal pengobatan dan penawaran kejiwaan. Sedangkan
yang paling menonjol ialah al-Razi mengemukakan cara penyembuhan dan perawatan
kejiwaan dengan pola hidup sufistik melalui konsep zuhud. Berkat karyanya yang
monumental tersebut, menurut Sayyed Husin Nasr, al-Razi diposisikan sebagai
seorang master yang membidani lahirnya ilmu perawatan jiwa.
Namun demikian, terlepas dari
pendapat di atas, dalam Al-Qur’an sendiri terdapat ayat-ayat yang menunjukkan
keadaan jiwa orang-orang yang beriman atau sebaliknya, orang-orang kafir,
sikap, tingkah laku, doa-doa. Di samping itu, juga terdapat ayat-ayat yang
berbicara tentang kesehatan mental, penyakit dan gangguan kejiwaan, serta
kelainan sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus
tentang perawatan jiwa. Karenanya tidak berlebihan jika Yahya Jaya mengemukakan
bahwa psikologi agama, dalam arti yang amat sederhana, telah ada jauh sebelum
abad ke-20, yaitu sejak Nabi Adam, yang pernah merasa berdosa, yang menyebabkan
jiwanya gelisah dan hatinya sedih. Untuk menghindari kesedihan dan kegelisahan
tersebut, ia bertaubat kepada Allah dan taubatnya diterima, sehingga ia merasa
lega kembali. Firman Allah:
فَتَلَقَّىٰ ءَادَمُمِنرَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَعَلَيْهِإِنَّهُۥهُوَٱلتَّوَّابُٱلرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa
kalimat (untuk bertaubat) dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah (2): 37)
C. Ruang Lingkup Psikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom,
psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan
dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lainnya. Sebagai contoh,
dalam tujuannya psikologi agama dan ilmu perbandingan agama memiliki tujuan
yang tak jauh berbeda. Yakni mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan
mengaplikasikan metode-metode peneliti yang bertipe bukan agama dan bukan
teologis. Bedanya adalah, bila ilmu perbandingan agama cenderung memusatkan perhatiannya
pada agama-agama primitif dan eksotis tujuannya adalah untuk mengembangkan
pemahaman dengan memperbandingkan satu agama dengan agama lainnya. Sebaliknya
psikologi agama, seperti pernyataan Robert H. Thouless (dalam Jalaludin)
memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau
masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku
keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat
(dalam Jalaludin, 2001: 16), menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi
agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh
dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Oleh karena itu,
menurut Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi
agama meliputi kajian mengenai:
1.
Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai
kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tenteram setelah
shalat, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat
suci Al-Qura’an, perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berdzikir dan
ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
2.
Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individu terhadap
Tuhannya, misalnya rasa tenteram dan kelegaan batin.
3.
Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya
hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang.
4.
Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang
berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi
pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5.
Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap
ayat-ayat suci, kelegaan batinya.
Adapun
ruang lingkup psikologi agama menurut Prof. Dr. H. Rusmin Tumanggor adalah:
a.
Kegiatan ibadah seseorang, meliputi ubudiyah dan maumalah.
b.
Gerakan-gerakan kemasyarakatan yang muncul dari masyarakat yang beragama.
c.
Budaya-budaya yang ada dalam masyarakat, akibat pengalaman agama.
d.
Suasana keagamaan dalam lingkungan hidup, seiring dengan kesadaran beragama
yang ada dalam masyarakat.
D. Fungsi Psikologi
Agama
Setelah mengetahui ruang lingkup dan dasar-dasar psikologi agama, maka
marilah kita belajar memahami tugas dari psikologi agama yang memiliki fungsi
yaitu sebagai berikut:
1.
Menerangkan prilaku yang menyimpang pada diri manusia sesuai dengan syariat.
2.
Memprediksi tingkah laku pada diri manusia sesuai dengan syariat.
3.
Mengontrol prilaku yang dilakukan manusia agar tidak terjadi penyimpangan.
4.
Mengarahkan manusia untuk mencapai ridho Allah SWT.
Dengan
demikian kehadiran psikologi agma dipenuhi dengan suatu misi besar. Yaitu
menyelamatkan manusia dan mengantarkan manusia untuk memenuhi kecenderungan
alaminya untuk kembali pada Allah dan mendapatkan ridha Allah SWT. Karena tugas
final psikologi agama itu menyelamatkan manusia, maka psikologi harus memanfaatkan
ajaran-ajaran agama.
A. Tujuan Psikologi Agama
Psikologi
agama memiliki beberapa tujuan yaitu sebagai berikut:
1.
Psikologi agama untuk kesejahteraan seluruh umat.
2.
Memprediksi prilaku manusia, mengontrol, dan mengarahkan prilaku.
3.
Membangun ilmu dengan visi agama
4.
Agama sebagai dasar pembentukan ilmu.
Psikologi islam disusun dengan memakai alquran sebagai acuan utamanya.
Sementara alquran sendiri diturunkan bukan semata-mata untuk kebaikan umat
Islam, tetapi untuk kebaikan umat manusia seluruhnya. Ada dua alasan mendasar
mengapa kita perlu menghadirkan psikologi islami atau psikologi agama. Alasan
yang paling utama adalah karena Islam mempunyai pandangan-pandangan sendiri
tentang manusia. Alquran, sumber utama agama Islam, adalah kitab petunjuk,
didalamnya banyak terdapat rahasia mengenai manusia. Allah sebagai pencipta
manusia, tentu tahu secara nyata dan pasti tentang siapa manusia. Lewat
alquran, Allah memberitahukan rahasia-rahasia tentang manusia. Karenanya, kalau
kita ingin tahu manusia lebih nyata dan sungguh-sungguh, maka alquran adalah
sumber yang selayaknya dijadikan acuan utama.
F. Metode PenelitianPsikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom,
maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian ilmiah. Kajian dilakukan
dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis
secara objektif.
Karena agama menyangkut masalah yang
berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit
untuk diteliti secara seksama, terlepas dari pengaruh-pengaruh subyektivitas.
Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral,
dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka
diperlukan adanya sikap yang objektif. Makanya dalam penelitian psikologi agama
perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Memiliki
kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
2. Memiliki
keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris.
3. Dalam
penelitian haru bersikap filosofis spiritualistis.
4. Tidak
mencampuradukkan anata fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali.
5. Mengenal
dengan baik masalah-masalah psikolgi dan metodenya.
6. Memiliki
konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya.
7. Menyadari
tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama.
8. Mampu
menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.
Metode yang digunakan dalam
penelitian-penelitian psikologi agama adalah metode ilmiah, yakni mempelajari
fakta-fakta yang berada dalam lingkungannya, dengan cara yang obyektif. Dalam
meneliti ilmu jiwa, agama menggnakan sejumlah metode, yang antara lain dapat
dikemukakan sebagai berikut:
1. Dokumen Pribadi
(Personal Document)
Metode ini digunakan untuk
mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam
hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi mengenai hal dimaksud,
maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi orang per orang.
Dokumen tersebut mungkin berupa autobiogrfi, biografi, tulisan ataupun
catatan-catatan yang dibuatnya.
Didasarkan pertimbangan bahwa agama
merupakan pengalaman batin yang bersifat individual di kala seseorang merasakan
sesuatu yang gaib, maka dokumen pribadi dinilai dapat memberikan informasi yang
lengkap. Selain catatan atau tulisan, juga digunakan daftar pertanyaan kepada
orang-orang yang akan diteliti. Jawaban yang diberikan secara bebas memberi
kemungkinan bagi responden untuk menyampaikan kesan-kesan batin yang
berhubungan dengan agama yang diyakininya.
Dalam penerapannya metode dokumen
pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu.
Sebenarnya, ada banyak teknik yang digunakan, hanya saja dalam hal ini penulis
akan membahas beberapa teknik saja. Diantaranya yang banyak digunakan adalah:
a. Teknik Nomotatik
Nomotatik merupakan pendekatan
psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau sifat-sifat dasar manusia
dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dari hubungan antara sikap dan
kondisi yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sikap tersebut. Sedangkan
sikap yang terliha sebagai kecenderungan sikap umum itu dinilai sebagai
gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap individu yang ada di dalamnya,
Philip G. Ziambardo (dalam Jalaludin).[5]
b. Teknik Analisis Nilai
(Value Analysis)
Teknik ini digunakan dengan dukungan
analisis statistik. Data yang terkumpul diklasifikasikan menurut teknik
statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang
diteliti. Teknik statistik digunakan berdasarkan perimbangan bahwa ada sejumlah
pengalaman keagamaan yang dapat dibaha dengan menggunakan bantuan ilmu eksakta,
terutama dalam mencari hubungan antara sejumlah variabel.
c. Teknik Idiography
Teknik ini juga merupakan pendekatan
psikolgis yang digunakan untuk memahami sifat-sifat dasar (tabiat) manusia.
Berbeda dengan nomotatik, maka ideography lebih dipusatkan pada hubungan antara
sifat-sifat dimaksud dengan keadaan tertentu dan aspek-aspek kepribadian yang
menjadi ciri khas masing-masing individu dalam upaya untuk memahami seseorang.
d. Teknik Penilaian
terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik ini digunakan dalam
penelitian terhadap biografi, tulisan, atau dokumen yang ada hubungannya dengan
individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut kemudian ditarik
kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap persoalan-persoalan yang
dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.
2. Kuesioner dan
Wawancara
Metode kuesioner maupun wawancara
digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam
secara langsung kepada responden.
Dalam penerapannya, metode kuesioner
dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk. Di antara cara yang digunakan
adalah teknik pengumpulan data melalui:
a. Pengumpulan
pendapat masyarakat (Public Opinion Polls)
Teknik ini merupakan gabungan antara
kuesioner dan wawancara. Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan
pendapat khalayak ramai. Data tersebut selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan
klasifikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian.
b. Skala penilaian
(Rating Scale)
Teknik ini digunakan untuk
memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam
diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok, misalnya. Dengan
adanya penyebab yang khas ini peneliti dapat memahami latar belakang
timbulnya perbedaan antarpenganut suatu keyakinan agama. Misalnya sikap liberal
lebih banyak dijumpai di kalangan penganut Protestan, dan sikap konservatif
lebih banyak dijumpai di kalangan penganut agama Katolik.
c. Tes (Test)
Tes digunakan dalam upaya
mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu. Untuk
memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya diperlukan bentuk tes yang sudah
disusun secara sistematis.
d. Eksperimen
Teknik eksperimen digunakan untuk
mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus
yang sengaja dibuat.
e. Observasi melalui
pendekatan sosiologi dan antropologi (Sociological and anthropological
observation)
Penelitian dilakukan dengan menggunakan
data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat manusiawi orang per orang atau
kelompok.
f. Studi agama
berdasarkan pendekatan antropologi budaya
Cara ini digunakan dengan
membandingkan antara tindak keagamaan (upacara, ritus) dengan menggunakan pendekatan
psikologi. Melalui pengukuran statistik kemudian dibuat tolok ukur berdasarkan
pendekatan psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan. Misalnya, adanya
persaudaraan antara sesama orang yang ber-Tuhan, masalah ke-Tuhanan dan agama,
adanya kebenaran keyakinan yang terlihat dalam bentuk formalitas, bentuk-bentuk
praktek keagamaan, dan sebagainya.
Penggunaan metode-metode dalam
penelitian psikologi agama sebenarnya dapat dilakukan dengan beragam,
tergantung kepada kepentingan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Adakalanya
seseorang lebih memilih dokumen pribadi untuk meneliti pengalaman agama.
Demikian pula ada yang selain menggunakan dokumen pribadi, baik berupa riwayat
hidup, buku harian, catatan, pernyataan, juga menggunakan angket dan wawancara sebagai
pelengkap. Dengan banyaknya metode yang mungkin digunakan, terlihat bahwa
metode yang dipakai dalam penelitian psikologi agama tidak berbeda dengan
metode yang dipakai dalam penelitian ilmiah dalam cabang disiplin ilmu
pengetahuan lain.
g. Metode Klinis dan Proyektivitas
Dalam pelaksanannya, metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Penyembuhan
dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dan agama
h. Metode Umum Proyektivitas
Metode ini berupa penelitian dengan cara menyadarkan sejumlah masalah yang
mengandung makna tertentu
i. Apersepsi Nomotatik
Caranya dengan mengunakan gambar-gambar yang samar.
j. Studi Kasus
Studi Kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil
wawancara atau lainnya untuk kasus-kasus tertentu.
k. Survei
Metode ini biasanya digunakan dalam penelitian sosial dan dapat digunakan
untuk tujuan penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan
organisasi dalam masyarakat.
G. Teori Ilmu
Jiwa Agama
a. Teori Monistik (Mono = Satu)
Teori
ini berpendapat bahwa sumber kejiwaan agama yang paling dominan adalah satu.
Akan tetapi, sumber tunggal manakah yang paling dominan. Timbul beberapa
pendapat dari para ahli:
1)
Thomas van Aquino
Thomas
mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah pikiran.
manusia ber-Tuhan karena manusia menggunkan kemampuan pikirannya.
2)
Fredrick Hegel
Filosof
Jerman ini berpendapat agama adalah suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh
benar dan tempat kebenaran abadi. berdasarkan hal itu, agama semata-mata
merupakan hal-hal atau persolan yang berhubungan dengan pikiran
3)
Sigmund Freud
Pendapat
S. Freud unsur kejiwaan yang menjadi sumber kejiwaan agama ialah libido sexuil
(naluri seks).
4)
Rusolf Otto
Menurut
pendapatnya sumber kejiwaan agama adalah rasa kagum yang berasal dari the
wholly other (yang sama sekali lain).
b. Teori Fakulti (Faculty Theory)
Teori
ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada suatu
faktor yang tunggal tetapi terdiri dari beberapa unsur, antara lain yang anggap
memang berperan penting adalah:
1.
Cipta (Reason)
Merupakan
fungsi intelektual jiwa manusia. Ilmu Kalam (Teologi) adalah cerminan adanya
pengaruh fungsi intelektual ini. Melalui cipta, orang dapat menilai, membandingkan,
dan memutuskan sesuatu tindakan terhadap stimulus tertentu.
2.
Rasa (Emotion)
Yang
menjadi objek penyelidikan sekarang pada dasarnya adalah bukan anggapan bahwa
pengalaman keagamaan seseorang itu dipengaruhi oleh emosi, melainkan sampai
berapa jauhkah peran emosi itu dalam agama.
3.
Karya (Will)
Will
berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin serta ajaran agama
berdasarkan fungsi kejiwaan.
H. Objek Kajian Psikologi Agama
Psikologi
agama merupakan salah satu kajian empiris umat beragama.Artinya, dasar-dasar
keyakinan dan pemahaman seseorang dapat diteliti secara empiris melalui tingkah
laku seseorang dari pemahamannya terhadap agama yang diyakininya. Dalam konsep
psikodiagnostik, perilaku beragama seseorang dipahami melalui penafsiran terhadap
tanda-tanda tingkah laku, cara berjalan, langkah, gerak isyarat, sikap,
penampilan wajah, suara dan seterusnya
Kalaupun
agama secara khusus tidak dapat dikaji secara empiris, akan tetapi pemahaman
keagamaan seseorang yang berwujud dalam bentuk tingkah laku dapat diteliti.
Yakni sejauh mana kapasitas seseorang dalam menyakini suatu agama.Sebab
adakalanya seseorang yang mengaku dirinya beriman, namun dalam tingkahlakunya
tidak mencerminkan nilai-nilai keagamaan yang diyakininya. Demikian pula sebaliknya,
seseorang yang dianggap tidak beriman (dalam artian normatif) namun segala
tingkah lakunya mencerminkan suatu nilai keagamaan tertentu. Untuk itu dengan
kajian empiris yang dilakukan oleh psikologi agama akan dapat diketahui kadar
kualitas keimanan seseorang.
Sebab
tanpa disadari oleh berbagai kalangan bahwa munculnya kesadaran beragama,
pengalaman keagamaan dan gejolak hati seseorang sangat berkaitan dengan
psikologi. Sehingga tidak memiliki dasar yang kuat jika seseorang menolak
adanya kajian empiris yang dilakukan ahli psikologi agama. Karena penelitian
yang dilakukan ahli psikologi agama hanya sebatas pada pengalaman dan kesadaran
seseorang dalam memahami keyakinan agamanya, dan tidak mempersoalkan benar
tidaknya suatu agama atau norma-norma terbaik dari agama tertentu.
Berdasarkan
pendapat di atas, maka penelitian psikologi merujuk pada suatu sistem dari
berbagai metode penelitian yang diarahkan pada pemahaman terhadap apa yang
telah diperbuat, yang telah dipikirkan dan dirasakan oleh manusia. Sebab
pijakan kepribadian manusia berdasarkan pada apa yang telah dipikirkan,
dirasakan dan yang telah diperbuat olehnya. Sehingga Robert H. Thouless
mengatakan, bahwa seorang peneliti psikologi tertentu dapat mempergunakan salah
satu bentuk behaviorisme teoritik di mana ia menganggap bahwa perolehan
mengenai tingkah laku manusia sebagai proses mekanik yang ditentukan oleh suatu
prinsip yang menyatakan bahwa tingkah laku terpuji cenderung untuk diulangi.
Pada
dasarnya psikologi agama tidak membahas tentang iman dan kufur, surga dan
neraka, serta hari kiamat dan sebagainya, juga tidak membahas mengenai definisi
dan makna agama secara umum. Namun psikologi agama secara khusus mengkaji
tentang proses kejiwaan seseorang terhadap tingkah laku dalam kehidupannya sehari-hari.
Untuk itu dalam psikologi agama dikenal adanya istilah kesadaran agama
(religious consciousness) dan pengalaman agama (religious experience).
Menurut
Zakiah Darajat kesadaran agama itu adalah bagian atau hadir (terasa) dalam
pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi atau disebut juga dengan aspek
mental dan aktivitas agama. Sedangkan yang dimaksud pengalaman agama adalah
unsur perasaan dan kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada
keyakinan yang dihasilkan oleh tindakannya.
Dengan
demikian psikologi agama tidak terlibat dalam memberikan penilaian benar atau
salahnya suatu agama, yakni tidak mencampuri dan membahas keyakinan agama-agama
tertentu. Untuk itu psikologi agama mengkaji dan meneliti proses keberagamaan
seseorang, perasaan atau kesadaran beragamanya dalam pola tingkah laku
kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat ditemukan sejauh mana pengaruh agama dan
keyakinan tertentu pada dirinya. Dan yang terpenting adalah bagaimana kelakuan
atau tindakan keagamaan yang telah diyakininya. Dengan kata lain bagaimana
pengaruh keberagamaan seseorang terhadap proses dan kehidupan yang berkaitan
dengan keadaan jiwanya, sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku secara
fisik dan sikap atau tingkah laku secara bathini yang mana dapat diketahui cara
berpikir, merasa atau emosinya.
Aristoteles,
menggambarkan jiwa sebagai potret badan. Menurut al Farabi, makna jiwa
merupakan kesempurnaan awal bagi fisik adalah bahwa manusia dikatakan menjadi
sempurna ketika menjadi makhluk yang bertindak. Sebab jiwa merupakan
kesempurnaan pertama bagi fisik alamiah dan bukan bagi fisik buatan. Al-Kindi
berpendapat, jiwa akan tetap kekal setelah kematian. Ia pindah ke alam
kebenaran yang di dalamnya terdapat nur Sang Pencipta. Pentingnya kajian jiwa
tersebut, sehingga Ibnu Miskawaih mengatakan, penyebab senang tidak hidup
seseorang dipengaruhi oleh jiwa. Jika jiwa seseorang baik, mulia dan senang
maka ia harus bergaul dengan orang-orang yang baik
Dari penjelasan diatas, ruang
lingkup obyek kajian psikologi agama menurut Zakiah Darajat meliputi kajian :
a) Bermacam-macam emosi yang menjalar diluar
kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti
rasa lega dan tentram setelah selesai sholat, rasa lepas dari ketegangan batin
sesuadah berdoa atau membaca ayat-ayat suci, perasaan tenang, pasrah dan
menyerah setelah berdzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan
dan kekecewaan yang dialaminya.
b)
Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual kepada
Tuhannya, misalnya merasa tentram dan kelegaan batin.
c)
Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya
hidup setelah mati (akherat) pada tiap-tiap orang.
d)
Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap
kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang
turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
e)
Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang
terhadap ayat-ayat suci dan kelegaan batinnya.
Dengan
demikian psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari dan meneliti tentang
pengaruh dan peran pengalaman agama terhadap eksistensi diri seseorang berupa
sikap, perilaku, tindakan, penampilan yang muncul di permukaan aktifitas
kehidupan secara nyata.
Sebagai
disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki obyek kajian tersendiri
dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama lainnya.Sebagai contoh, dalam
tujuannya, psikologi agama seperti diungkapkan Robert H. Thouless, memusatkan
kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat.
Kajian berpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan menggunakan
pendekatan psikologi.
PENUTUP
KESIMPULAN
Psikologi
agama terdiri dari kata psikologi dan agama. Psikologi berarti studi ilmiah
atas gejala kejiwaan manusia. Sebagai kajian ilmiah, psikologi jelas mempunyai
sifat teoritik-empirik, dan sistematik. Sementara agama bukanlah ilmu dalam
pengrtian kajian ilmiah. Agama merupakan suatu aturan yang menyangkut cara-cara
bertingkah laku, berperasaan dan berkeyakinan secara khusus. Setidaknya agama
menyangkut ke-ilahi-an. Maksudnya, agama menyangklut segala sesuatu yang
bersifat ketuhanan. Sebaliknya psikologi menyangkut manusia dan lingkungannya.
Agama bersifat transenden, psikologi bersifat profan. Oleh karena itu,
psikologi tidak bisa memasuki wilayah ajaran keagamaan. Alasannya, psikologi
dengan watak keprofanannya itu sangat terikat dengan pengalaman dunia,
sementara agama merupaka urusan Tuhan yang sudah tentu mengatasi semua
pengalaman tersebut.
Demikianlah
pembahasan makalah yang dapat saya tulis. Dan tentunya masih terdapat banyak
kekurangan dan kesalahan baik dari susunan isinya maupun dalam penyampaiannya.
Maka dari itu kritik dan saran sangat penulis harapkan, dan semoga makalah ini
dapat menambah wawasan kita. Aamiin.
DAFTAR
PUSTAKA
Sururin, Ilmu Jiwa
Agama (Bandung: Grafido Persada, 2004)
Bambang Syamsul Arifin, Psikologi
Agama (Bandung : Pustaka Setia, 2008)
Ramayulis, Psikologi Agama(Jakarta
: kalam mulia, 2011)
Jalaluddin Rakhmat, Psikologi
Agama sebuah Pengantar (Jakarta : Mizan, 2004)
A. Aziz Ahyadi, Psikologi
Agama (Bandung : Mariana, 2010)
Abidin Nata, Metodologi
Studi Islam (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1998)
Jalaludin, Psikologi
Agama (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001)
Aziz, Abdul. Ilmu
Jiwa (Jakarta : Bulan Bintang, 1976)
Daradjat Zakiah, Ilmu
Jiwa (Jakarta : Bulan Bintang, 1970)
Arifin, Zainal. Perkembangan
Pikiran Terhadap Agama. (Jakarta : Pustaka Al Husna, 1984)
http://adenurhidayah.blogspot.com/2012/04/makalah-pengertian-psikologi-agama.html
Vampires in the Enchanted Castle casino - FilmFileEurope
BalasHapusVampires in the Enchanted Castle Casino. Vampires in the Enchanted Castle Casino. Vampires in 꽁 머니 토토 the Enchanted Castle Casino. Vampires air jordan 18 retro men red good website in air jordan 18 stockx free shipping the Enchanted Castle Casino. Vampires where to buy air jordan 18 retro men red in 스포츠 스코어 the Enchanted