Selasa, 18 Oktober 2016

PSIKOLOGI AGAMA

PSIKOLOGI AGAMA
Makalah ini Diajukan untuk Memenuhi Tugas UTS (Ujian Tengah Semester) pada Mata Kuliah : Psikologi Agama

DosenPembimbing :Dra. Marzuqoh, M.A.

Disusun Oleh :
Fikri Ihsan
NIM : 1113034000189


PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2016


KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah swt yang telah memberi rahmat dan hidayah-Nya serta kesehatan, keselamatan kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Semata-mata untuk menyempurnakan materi kuliah Psikologi Agama, dalam bentuk makalah yang berjudul “Pengantar Psikologi Agama”.
           Penulis berharap apa yang telah penulis paparkan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Tak lupa pula penulis ucapkan ribuan terima kasih kepada Bapak dosen yang telah memberikan ilmunya dan pengarahannya serta bantuannya kepada penulis dalam penyelesaian tugas ini.
          Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Untuk itu, saran dan kritik yang bersifat memperbaiki dari para pembaca sangat penulis harapkan.
      Atas segala perhatiannya penulis ucapkan terima kasih. Penulis berharap semoga penyajian makalah penulis ini dapat diterima bagi para pembaca. Semoga Allah swt senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.


Jakarta, 13 Oktober 2016


                  Penulis






DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR…………………………………………………………i
DAFTAR ISI………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………….........1
1.      LatarBelakang………………………………………………………....….......1
2.      RumusanMasalah……………………………………………………………..2
3.      TujuanMasalah…………………………………………………………..........3
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………..............4
A.   Pengertian dari Psikologi Agama......................................................................4
B.     Sejarah Perkembangan Psikologi Agama…………………………………….11
C.     Ruang Lingkup dari Psikologi Agama…………………………………….....13
D.    Fungsi dari Psikologi Agama…………………………………………………14
E.     Tujuan dari psikologi agama………………………………………………….15
F.      Metode Penelitian dari Psikologi Agama……………………………………..15
G.    Teori Ilmu Jiwa Agama…………………………………………………..........19
H.    Objek Kajian dari Psikologi Agama...................................................................20
BAB III PENUTUP………………………………………………....................24
KESIMPULAN………………………………………………………….....24
DAFTAR KEPUSTAKAAN…………………………………………………...25



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia tampil dimuka bumi ini sebagai homo religius yang mempunyai makna bahwa ia memiliki sifat-sifat religius. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang paling dasar, manusia mempunyai dorongan dan kekuatan guna mendapatkan keamanan hidup pemenuhan kebutuhan di bidang keagamaan.
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang spesifik, baik dilihat dari segi fisik maupun nonfisiknya. Ditinjau dari segi fisik, tidak ada makhluk lain yang memiliki tubuh sesempurna manusia. Sementara dari segi nonfisik manusia memiliki struktur ruhani yang sangat membedakan dengan makhluk lain.
Jasmani atau fisik manusia dikaji dan diteliti oleh disiplin anatomi, biologi, ilmu kedokteran maupun ilmu-ilmu lainnya,sedangkan jiwa manusia dipelajari secara khusus oleh psikologi.  Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani kuno, psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi psikologi adalah ilmu tentang jiwa. Para ahli psikologi modern saat ini tidak mengartikan psikologi sebagai ilmu tentang gejala dan aktivitas jiwa manusia. Manusia adalah suatu mahluk somato-psiko-sosial dan karena itu maka suatu pendekatan terhadap manusia harus menyangkut semua unsur somatik, psikologik, dan sosial.
Psikologi secara etimologi memiliki arti “ilmu tentang jiwa”. Dalam Islam, istilah “jiwa” dapat disamakan istilah al-nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilah al-ruh, meskipun istilah al-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilah al-ruh. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda.
Psikologi menurut Plato dan Aristoteles adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.Menurut Wilhem Wundt (tokoh eksperimental) bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti penggunaan pancaindera, pikiran, perasaan, feeling dan kehendaknya.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi.
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya, bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya. 
Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak, apakah ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri akibat terjangan cobaan hidup, dan pengalaman hidupnya.
Salah satu cabang ilmu jiwa yang masih muda, ilmu jiwa Agama sampai sekarang masih belum mendapat yang wajar. Masih banyak ahli-ahli jiwa yang tidak mengakui adanya cabang ilmu jiwa, yang berdiri sendiri yang khusus membahas dan menyoroti masalah agama. Namun cabang ilmu jiwa yang masih muda ini tetap hidup dan berkembang untuk meneliti dan menjawab berbagai macam persoalan, yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama. Berapa banyaknya peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang sukar untuk dimengerti tanpa menghubungkannya dengan agama.
Untuk menjawab semua persoalan-persoalan yang berhubungan dengan keyakinan itulah, maka ilmu jiwa agama perlu meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempengaruhi berapa besar pengaruh keyakinan agama tersebut dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Psikologi agama sangat berpengaruh dan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.
Dalam hal ini akan dijelaskan bagaimana pengertian psikologi agama yang akan dibahas dalam makalah ini. Penulis berharap ada tujuan akhir yang akan dicapai dalam mempelajari psikologi agama sehingga makalah ini bermanfaat dalam memahami psikologi agama. Penulis juga bertujuan mengajak para pembaca untuk memahami agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari psikologi agama?
2.      Bagaimana sejarah perkembangan psikologi agama?
3.      Apa ruang lingkup dari psikologi agama?
4.      Apa fungsi dari psikologi agama?
5.      Apa tujuan dari psikologi agama?
6.      Bagaimana metode penelitian dari psikologi agama?
7.      Apa teori ilmu jiwa agama?
8.      Apa objek kajian dari psikologi agama?

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian dari psikologi agama.
2.      Untuk mengetahui sejarah perkembangan psikologi agama.
3.      Untuk mengetahui ruang lingkup dari psikologi agama.
4.      Untuk mengetahui fungsi dari psikologi agama?
5.      Untuk mengetahui tujuan dari psikologi agama?
6.      Untuk mengetahui dari metode penelitian psikologi agama
7.      Untuk mengetahui teori ilmu jiwa agama
8.      Untuk mengetahui objek kajian psikologi agama.



BAB II
PEMBAHASAN

A.        Pengertian Psikologi Agama
Pada awalnya, psikologi merupakan cabang dari filsafat, karena filsafat merupakan induk dari segala cabang ilmu.
Dalam tahap selanjutnya psikologi berdiri sebagai cabang ilmu tersendiri dan pengertiannya lebih mengarah pada pengertian tentang ilmu yang mempelajari proses mental yang tampak dalam perilaku. Karena keterbatasan manusia dalam pemahamannya tentang jiwa (ruh), para ahli berbeda pendapat dalam memberikan definisi tentang psikologi. Namun secara umum, psikologi adalah ilmu penggetahuan yang mempelajari tingkah laku dalam berhubungan dengan lingkungannya.
Dalam perkembangan selanjutnya, para ahli melihat bahwa psikologi memiliki keterkaitan dengan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan bathin manusia yang dalam, yaitu Agama. Para ahli kemudian memunculkan studi khusus tentang hubungan antara kesadaran agama dan tingkah laku. Zakiah Daradjat misalnya, menampilkan beberapa peristiwa yang sukar dimengerti tanpa dihubungkannya dengan agama. Sebagai contoh ada orang yang tampaknya senang, suka menolong dan bahagia, padahal hidupnya sangat sederhana, makan secukupnya, pakaian sederhana, alat-alat dan perabotan rumah tangganya kurang dari sederhana. Tengah malam ia bangun untuk mengabdi kepada Tuhan, sebelum waktu subuh, ia telah duduk pula ditikar sholatnya. Sebaliknya tidak jarang diijumpai seseorang yang kehidupannya lebih dari cukup, atau boleh dibilang berlebih, tapi dlaam hatinya penuh kegoncangan dan jauh dari kepuasan. Lebih jauh dijelaskan bahwa hubungan antara moral dan agama sebenarnya sangat erat. Biasanya orang-orang yang mengerti tentang agama dan rajin melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, moralnya dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, orang yang akhlaknya merosot, biasanya keyakinan terhadap agamanya kurang atau tidak ada sama sekali.
Berangkat dari permasalahan-permasalahhan seperti itulah, akhirnya psikologi banyak membahas atau mengkaji tentang agama. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkap tingkah laku manusia dalam kaitannya dengan kehidupan beragama.[1]
Ketika mengkaji psikologi agama seseorang dihadapkan pada dua kata, yakni “psikologi” dan “agama”. Kedua kata tersebut memiliki pengertian dan penggunaan yang berbeda, meskipun keduanya memilki aspek kajian yang sama yaitu aspek batin manusia.[2]
Psikologi agama terdiridaridua kata yaitupsikologidan agamaPsikologiberasaldaribahasayunaniyaitu “Psyche”dan “logos”. “Psyche” yang artinyajiwadan“logos” yang artinyailmupengetahuan. Jadipsikologiadalahilmu yang mempelajaritentangjiwabaikmengenaimacam-macamgejalanya, proses maupunlatarbelakang.
Psikologisecaraetimologimengandungartiilmutentangjiwa.Dalam Islam kata jiwadisamakandengan“an-nafsu” namunada juga yang menyamakandenganistilah “ar-ruh”. Tetapiistilah “an-nafsu” lebih popular daripadaistilah “ar-ruh”,  karenapsikologidalambahasaarablebih popular diterjemahkandenganilmu an-nafsudaripadailmuar-ruh. Dalam Al-Quran surat Al-Fajrayat 27-30 disebutkan, kata an-nafsuberartijiwa.
يَٰأَيَّتُهَاٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّة. ٱرْجِعِى إِلَىٰرَبِّكِرَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً.فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى. وَٱدْخُلِى جَنَّتِى.
Hai jiwa yang tenang. KembalilahkepadaTuhanmudenganhati yang puaslagidiridhai-Nya.Makamasuklahkedalam Jemaah hamba-hamba-Ku, danmasuklahkedalamsurga-Ku.(QS. Al-Fajr (89): 27-30)
            Psikologiberartistudiilmiahatasgejalakejiwaanmanusia.Sebagaikajianilmiah, psikologijelasmempunyaisifatteoritik-empirikdansistematik.Sedangkan agama merupakansuatuaturan yang menyangkutcara-carabertingkahlaku, berperasaandanberkeyakinansecarakhusus.
Setidaknya agama menyangkutke-ilahi-an. Maksudnya, agamamenyangkutsegalasesuatu yang bersifatketuhanan.Sedangkanpsikologimenyangkutmanusiadanlingkungannya. Agama bersifat transenden, psikologi bersifat profan. Oleh karena itu, psikologi tidak bisa memasuki wilayah ajaran keagamaan. Alasannya, psikologi dengan watak keprofanannya itu sangat terikat dengan pengalaman dunia, sementara agama merupaka urusan Tuhan yang sudah tentu mengatasi semua pengalaman tersebut.
Disinilah sebenarnya tempat permasalahan timbulnya konflik pada awal kemunculan disiplin psikologi agama. Konflik tersebut timbul karena kurangnya pemahaman terhadap hakekat psikologi agama. Memang telah disadari merumuskan definisi suatu ilmu yang mencakup dua  substansi ilmu yang berbeda watak tidaklah mudah. Bila pendefinisian tersebut keliru, bisa jadi akan menimbulkan kesan penggerogokan wilayah agama yang transenden. Ini jelas akan menimbulkan kemarahan besar dari kalangan ahli agama.[3]
Sebelum kita membahas tentang Agama Dan Psikologi Agama, ada baiknya kita menengok kebelakang dulu untuk mengetahui tentang pengertian masing-masing kata baik Agama, Psikologi maupun Psikologi Agama menurut para ahli.
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation  atau kewajiban.
Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau).[4]
Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird).[5]
Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas  sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley).[6]
Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang ke-Tuhanan disertai keimanan dan peribadatan.[7]
Jadi agama pertama-tama harus dipandang sebagai pengalaman dunia dalam individu yang mengsugesti esensi pengalaman semacam kesufian, karena kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan sebagai supernatural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih bersifat personal atau pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang.
Yang kedua adalah adanya keimanan, yang sebenarnya intrinsik ada pada pengalaman dunia dalam seseorang. Kemudian efek dari adanya  keimanan dan pengalaman dunia yaitu peribadatan.
Agama dari segi bahasa yang dapat dibahas dalam uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya agama dikenal dengan kata din   bahasa Arab dan kata religi dalam bahasa Eropa.
Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, kata Agama tersusun dari dua kata, a = tidak dan gam = pergi, jadi Agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun temurun. Selanjutnya agama dikatakan sebagai tuntunan. Selanjutnya din dalam bahasa semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan. Drai pengertian tersebut berarti kandungan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut Agama yang bersangkutan.
Harun Nasution menyimpulkan dimensi Agama ialah[8] :
1.      Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi
2.      Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia.
3.      Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
4.      Kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5.      Sistem suatu tingkah laku yang berasal dari kekuatan ghaib.
6.      Pengakuan adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan ghaib.
7.      Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia
8.      Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusai melalui seorang Rasul.
Selanjutnya Harun Nasution merumuskan ada empat unsur yang terdapat dalam agama yaitu:
a.       Kekuatan ghaib, yang diyakini berada diatas manusia. Didorong oleh kelemahan dan keterbatasannya, manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan cara menjaga dan membina hubungan baik dengan kekuatan ghaib tersebut. Sebagai realisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan ghaib itu.
b.      Keyakinan tehadap kekuatan ghaib sebagai penentu nasib baik nasib buruk manusia. Dengan demikian manusia berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar kesejahteraan dan kebahagiaannya terpelihara.
c.       Respon yang bersifat emosional dari manusia. Respon ini dalam realisasinya terlihat dalam bentuk penyembahan karena didorong oleh perasaan takut (agama primitif) atau pemujaan yang didorong oleh perasaan cinta (monoteisme), serta bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya.
d.      Paham akan adanya yang kudus dan suci. Sesuatu yang kudus dan suci ini adakalanya berupa kekuatan ghaib, kitab yang berisi ajaran agama, maupun tempat-tempat tertentu.[9]
Adapun bentuk kepercayaan yang dianggap sebagai Agama, tampaknya memang memiliki ciri umum yang hampir sama, baik dalam Agama primitif maupun Agama monoteisme. Menurut Robert H.Thouless dalam kaitannya dengan psikologi Agama, ia mengatakan Agama adalah sikap (cara penyesuaian diri terhadap dunia yang mencakup acuan yang menunjukkan lingkungan lebih luas daripada lingkungan dunia fisik yang terikat ruang dan waktu).
Beranjak dari kedua pengertian psikologi dan Agama, maka psikologi agama dapat diartikan sebagai Psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi melalui penelaahan yang merupakan kajian empiris.
Psikologi Agama sebagai salah satu cabang ilmu dari psikologi juga merupakan ilmu terapan. Psikologi Agama sejalan dengan ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam memecahkan persoalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang dianut.
Berapapun macam definisi Agama dalam psikologi Agama yang diberikan para ahli, namun bagi kita yang penting adalah Agama yang dirasakan dengan hati, pikiran, dan dilaksanakan dalam tindakan serta memantul dalam sikap (yang menjadi kajian psikologi Agama) dan cara menghadapi hidup pada umumnya, atau dengan ringkas yang kita teliti adalah proses kejiwaan terhadap Agama dan pengaruhnya dalam hidup pada umumnya.
Adanya keterkaitan yang erat antara psikologi dan Agama. Bila ditinjau dari pengertiannya Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku sedangkan agama dapat diartikan sebagai suatu keyakinan terhadap suatu ajaran. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman perilaku keagamaan yang mana agama dapat mempengaruhi tingkah laku manusia baik dalam kehidupan bermasyarakat, berkelompok dan berbudaya juga dalam kehidupan beragama.
Tidak ada satupun definisi tentang agama (religion) yang dapat diterima secara umum, karena  para filsuf, sosiolog, psikolog merumuskan agama menurut caranya masing-masing, menurut sebagian filsuf religion adalah ”Supertitious structure of incoheren metaphisical notionSebagian ahli sosiolog lebih senang menyebut religion sebagai ”collective expression of human values”. Para pengikut Karl Marx mendifinisikan Religion sebagai “the opiate of people”. Sebagian Psikolog menyimpulkan religion adalah mysticalcomplex surrounding a projected superego” disini menjadi jelas bahwa tidak ada batasa tegas mengenai agama/religion yang mencakup berbagai fenomena religion.
Menurut Einstein, pada pidato tahun 1939 di depan Princeton Theological seminar, ”ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk mencapai kebenaran dan pemahaman, tetapi sumber perasaan itu berasal dari tataran agama, termasuk didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat rasional, artinya dapat dipahami akal. Saya tidak dapat membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai keimanan yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta
Beragama berarti melakukan dengan cara tertentu dan sampai tingkat tertentu penyesuaian vital betapapun tentative dan tidak lengkap pada apapun yang ditanggapi atau yang secara implicit atau eksplisit dianggap layak diperhatikan secara serius dan sungguh-sungguh (Vergulius Ferm)
Psikologis atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan  alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia  mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang, yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian, ilmu pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama, sesuai dengan banyaknya dimensi kehidupan insani , psikologi dapat dibagi menjadi beberapa cabang
Kepercayaan dan pengamalannya sangat beragam antara tradisi yang utama dan usaha dalam mendifinisikan agama itu sendiri secara keseluruhan yang sempurna. Agama sendiri menurut bahasa latin berasal dari kata religio, yang dapat di artikan sebagai kewajiban atau ikatan
Menurut Oxford English Dictionary, “religion represent the human recognition of super human controlling  power, and especially of a personal God or Gods entitle to obedience and worship”, agama menghadirkan manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang disebut Tuhan atau para dewa-dewa untuk patuh dan menyembahnya.
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama, dengan demikian psikologi agama mencakup dua bidang kajian yang sama sekali berlainan, sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya
Psikologi agama tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan tidak mempunyai tehnik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah laku manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman individu, dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan, tingkah laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan, pengalaman keagamaan, hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran beragama dan persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya hidup keagamaan.
Secara umum psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa yang normal, dewasa dan beradab.
Psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Disamping itu psikologi juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada orang serta faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.

Untukmengetahuibagaimanapengertianpsikologi agama secarabenardanlengkap, berikutiniakandikemukakanpendapatbeberapaahli.
Menurut Jalaludin danRamayulis, psikologi agama adalahsebagaiilmujiwa yang khususmengkajisikapdantingkahlakuseseorang yang timbuldarikeyakinan yang dianutnyaberdasarkanpendekatanpsikologi.
Menurut Zakiah Daradjat,psikologi agama ialahilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara orang berpikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku, tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
Menurut Robert H. Thouless, psikologi sekarang digunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia.
            John Broadus Waston, memandang psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku tampak (lahiriah) dengan menggunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsangan dan jawaban.
           
            Dari beberapa pendapat mengenai definisi psikologi agama, maka dapat disimpulkan bahwa psikologi agama dengan demikian merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi. Jadi penelahaan tersebut merupakan kajian empiris.

B.  Sejarah PerkembanganPsikologi Agama
Sumber-sumber Barat mengungkapkan bahwa penelitian secara ilmiah tentang agama dimulai dari kajian para anthropolog. Hasil penelitian Frazer dan Taylor mengenai agama-agama primitif dinilai sebagai gerakan awal dari kajian itu. Selanjutnya sejumlah penelitian juga dilakukan oleh para sosiolog, dan juga ahli psikologi seperti Stanley Hall. Tetapi Edwin Diller Starbuck dipandang sebagai peletak dasar bagi peneliti modern dilapangan psikologi agama. Bukunya yang memuat pembahasan mengenai pertumbuhan perasaan agama yang berjudul The Psychology of Religion, An Empirical Study of Growth of Religion Counsciousness. Buku yang diterbitkan tahun 1899 tersebut dianggap sebagai buku pertama mengenai psikologi agama oleh kalangan ahli psikologi agama Barat.
Walaupun secara formal pembahasan tentang psikologi agama di dunia Timur (Islam) sama sekali tidak ditemukan, hal ini bukan berarti pada masa itu psikologi agama belum dibicarakan sama sekali. Dari hasil penelitian AE. Afifi ditemukan, bahwa ternyata dalam filsafat mistis Ibnu Arabi telah banyak diuraikan butir-butir kajian kejiwaan yang tidak jauh berbeda dengan yang dikaji dalam psikologi modern.Ibnu Arabi sudah membahas psikologi empiris, sifat-sifat dan fungsi- fungsi jiwa, dan teori tentang mimpi yang banyak diungkapkan oleh Sigmund Freud. Walaupun pembicaraan mengenai butir-butir psikologi tersebut sangat lekat dengani penghayatan sufistiknya, namun hal itu jelas mempunyai arti sangat penting bagi kajian psikologi agama dan kesehatan mental.
Bahasan seputarpengaruh ajaran agama terhadap kehidupan keagamaan banyak ditemukan dalam buku Ihya U`lum Al-Din dan Al-Munqidz Al-Dhalal karangan Abu Hamid Al-Ghazali. Di dalam buku itu ia tidak hanya menguraikan ajaran agama terhadap kehidupan agama, tetapi lebih dari itu dalam kedua buku tersebut ditemukan tentang pengahayatan Al-Ghazali sendiri terhadap adanya pengaruh ajaran agama terhadap kehidupan keagamaan.
Konversi al-Ghazali, yang dipahami sebagai masa pematangan beragama seseorang sebenarnya merupakan bagian integral kajian psikologi agama. William James tampaknya juga tidak melupakan aspek penting dari kajian psikologi agama ini.
Kesehatan mental yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan psikologi agama, juga banyak dibahas oleh para ilmuan muslim. Ibnu Sina sebagai filosof dan dikter sudah mendiskusikan hal itu dalam buku al-Syifa’ (the book of healing). Menurut Ibnu Sina, kebahagiaan itu sangat integral dengan akhlak. Kebahagiaan akan dipeeroleh bila seseorang mampu memilih yang baik dan menyingkirkan yang tidak baik. Penyucian dan pembersihan kalbu merupakan kunci utama.
Al-Razi sebagai seorang filosof sufi juga telah membahas tentang psikotherapi. Hal itu dapat ditemukan dalam bukunya al-Thib al-Ruhanty. Dalam buku tersebut, sesuai dengan judulnya Penyembuhan Jiwa, Razi menguraikan perihal pengobatan dan penawaran kejiwaan. Sedangkan yang paling menonjol ialah al-Razi mengemukakan cara penyembuhan dan perawatan kejiwaan dengan pola hidup sufistik melalui konsep zuhud. Berkat karyanya yang monumental tersebut, menurut Sayyed Husin Nasr, al-Razi diposisikan sebagai seorang master yang membidani lahirnya ilmu perawatan jiwa.
Namun demikian, terlepas dari pendapat di atas, dalam Al-Qur’an sendiri terdapat ayat-ayat yang menunjukkan keadaan jiwa orang-orang yang beriman atau sebaliknya, orang-orang kafir, sikap, tingkah laku, doa-doa. Di samping itu, juga terdapat ayat-ayat yang berbicara tentang kesehatan mental, penyakit dan gangguan kejiwaan, serta kelainan sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus tentang perawatan jiwa. Karenanya tidak berlebihan jika Yahya Jaya mengemukakan bahwa psikologi agama, dalam arti yang amat sederhana, telah ada jauh sebelum abad ke-20, yaitu sejak Nabi Adam, yang pernah merasa berdosa, yang menyebabkan jiwanya gelisah dan hatinya sedih. Untuk menghindari kesedihan dan kegelisahan tersebut, ia bertaubat kepada Allah dan taubatnya diterima, sehingga ia merasa lega kembali. Firman Allah:
فَتَلَقَّىٰ ءَادَمُمِنرَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَعَلَيْهِإِنَّهُۥهُوَٱلتَّوَّابُٱلرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat (untuk bertaubat) dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah (2): 37)

C.  Ruang Lingkup Psikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lainnya. Sebagai contoh, dalam tujuannya psikologi agama dan ilmu perbandingan agama memiliki tujuan yang tak jauh berbeda. Yakni mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan mengaplikasikan metode-metode peneliti yang bertipe bukan agama dan bukan teologis. Bedanya adalah, bila ilmu perbandingan agama cenderung memusatkan perhatiannya pada agama-agama primitif dan eksotis tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman dengan memperbandingkan satu agama dengan agama lainnya. Sebaliknya psikologi agama, seperti pernyataan Robert H. Thouless (dalam Jalaludin) memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat (dalam Jalaludin, 2001: 16), menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Oleh karena itu, menurut Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai:
1.      Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tenteram setelah shalat, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci Al-Qura’an, perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berdzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan.
2.      Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individu terhadap Tuhannya, misalnya rasa tenteram dan kelegaan batin.
3.      Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang.
4.      Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
5.      Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci, kelegaan batinya.
                  Adapun ruang lingkup psikologi agama menurut Prof. Dr. H. Rusmin Tumanggor adalah:
a.       Kegiatan ibadah seseorang, meliputi ubudiyah dan maumalah.
b.      Gerakan-gerakan kemasyarakatan yang muncul dari masyarakat yang beragama.
c.       Budaya-budaya yang ada dalam masyarakat, akibat pengalaman agama.
d.      Suasana keagamaan dalam lingkungan hidup, seiring dengan kesadaran beragama yang ada dalam masyarakat.

D. Fungsi Psikologi Agama
                  Setelah mengetahui ruang lingkup dan dasar-dasar psikologi agama, maka marilah kita belajar memahami tugas dari psikologi agama yang memiliki fungsi yaitu sebagai berikut:
1.      Menerangkan prilaku yang menyimpang pada diri manusia sesuai dengan syariat.
2.      Memprediksi tingkah laku pada diri manusia sesuai dengan syariat.
3.      Mengontrol prilaku yang dilakukan manusia agar tidak terjadi penyimpangan.
4.      Mengarahkan manusia untuk mencapai ridho Allah SWT.
            Dengan demikian kehadiran psikologi agma dipenuhi dengan suatu misi besar. Yaitu menyelamatkan manusia dan mengantarkan manusia untuk memenuhi kecenderungan alaminya untuk kembali pada Allah dan mendapatkan ridha Allah SWT. Karena tugas final psikologi agama itu menyelamatkan manusia, maka psikologi harus memanfaatkan ajaran-ajaran agama.

A.    Tujuan Psikologi Agama
            Psikologi agama memiliki beberapa tujuan yaitu sebagai berikut:
1.      Psikologi agama untuk kesejahteraan seluruh umat.
2.      Memprediksi prilaku manusia, mengontrol, dan mengarahkan prilaku.
3.      Membangun ilmu dengan visi agama
4.      Agama sebagai dasar pembentukan ilmu.
Psikologi islam disusun dengan memakai alquran sebagai acuan utamanya. Sementara alquran sendiri diturunkan bukan semata-mata untuk kebaikan umat Islam, tetapi untuk kebaikan umat manusia seluruhnya. Ada dua alasan mendasar mengapa kita perlu menghadirkan psikologi islami atau psikologi agama. Alasan yang paling utama adalah karena Islam mempunyai pandangan-pandangan sendiri tentang manusia. Alquran, sumber utama agama Islam, adalah kitab petunjuk, didalamnya banyak terdapat rahasia mengenai manusia. Allah sebagai pencipta manusia, tentu tahu secara nyata dan pasti tentang siapa manusia. Lewat alquran, Allah memberitahukan rahasia-rahasia tentang manusia. Karenanya, kalau kita ingin tahu manusia lebih nyata dan sungguh-sungguh, maka alquran adalah sumber yang selayaknya dijadikan acuan utama.

F. Metode PenelitianPsikologi Agama
Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki metode penelitian ilmiah. Kajian dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara objektif.
Karena agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara seksama, terlepas dari pengaruh-pengaruh subyektivitas. Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka diperlukan adanya sikap yang objektif. Makanya dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:
1.      Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
2.      Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris.
3.      Dalam penelitian haru bersikap filosofis spiritualistis.
4.      Tidak mencampuradukkan anata fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali.
5.      Mengenal dengan baik masalah-masalah psikolgi dan metodenya.
6.      Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya.
7.      Menyadari tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama.
8.      Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.
Metode yang digunakan dalam penelitian-penelitian psikologi agama adalah metode ilmiah, yakni mempelajari fakta-fakta yang berada dalam lingkungannya, dengan cara yang obyektif. Dalam meneliti ilmu jiwa, agama menggnakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.  Dokumen Pribadi (Personal Document)
Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi mengenai hal dimaksud, maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi orang per orang. Dokumen tersebut mungkin berupa autobiogrfi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya.
Didasarkan pertimbangan bahwa agama merupakan pengalaman batin yang bersifat individual di kala seseorang merasakan sesuatu yang gaib, maka dokumen pribadi dinilai dapat memberikan informasi yang lengkap. Selain catatan atau tulisan, juga digunakan daftar pertanyaan kepada orang-orang yang akan diteliti. Jawaban yang diberikan secara bebas memberi kemungkinan bagi responden untuk menyampaikan kesan-kesan batin yang berhubungan dengan agama yang diyakininya.
Dalam penerapannya metode dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Sebenarnya, ada banyak teknik yang digunakan, hanya saja dalam hal ini penulis akan membahas beberapa teknik saja. Diantaranya yang banyak digunakan adalah:
a.  Teknik Nomotatik
Nomotatik merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dari hubungan antara sikap dan kondisi yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sikap tersebut. Sedangkan sikap yang terliha sebagai kecenderungan sikap umum itu dinilai sebagai gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap individu yang ada di dalamnya, Philip G. Ziambardo (dalam Jalaludin).[5]
b.  Teknik Analisis Nilai (Value Analysis)
Teknik ini digunakan dengan dukungan analisis statistik. Data yang terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti. Teknik statistik digunakan berdasarkan perimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagamaan yang dapat dibaha dengan menggunakan bantuan ilmu eksakta, terutama dalam mencari hubungan antara sejumlah variabel.
c. Teknik Idiography
Teknik ini juga merupakan pendekatan psikolgis yang digunakan untuk memahami sifat-sifat dasar (tabiat) manusia. Berbeda dengan nomotatik, maka ideography lebih dipusatkan pada hubungan antara sifat-sifat dimaksud dengan keadaan tertentu dan aspek-aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing-masing individu dalam upaya untuk memahami seseorang.
d.  Teknik Penilaian terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan, atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.
2.   Kuesioner dan Wawancara
Metode kuesioner maupun wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam secara langsung kepada responden.
Dalam penerapannya, metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk. Di antara cara yang digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui:
a.   Pengumpulan pendapat masyarakat (Public Opinion Polls)
Teknik ini merupakan gabungan antara kuesioner dan wawancara. Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai. Data tersebut selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian.
b.   Skala penilaian (Rating Scale)
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok, misalnya. Dengan adanya penyebab yang khas ini peneliti  dapat memahami latar belakang timbulnya perbedaan antarpenganut suatu keyakinan agama. Misalnya sikap liberal lebih banyak dijumpai di kalangan penganut Protestan, dan sikap konservatif lebih banyak dijumpai di kalangan penganut agama Katolik.
c.   Tes (Test)
Tes digunakan dalam upaya mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara sistematis.
d.  Eksperimen
Teknik eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
e.  Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi (Sociological and anthropological observation)
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat manusiawi orang per orang atau kelompok.
f.   Studi agama berdasarkan pendekatan antropologi budaya
Cara ini digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan (upacara, ritus) dengan menggunakan pendekatan psikologi. Melalui pengukuran statistik kemudian dibuat tolok ukur berdasarkan pendekatan psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan. Misalnya, adanya persaudaraan antara sesama orang yang ber-Tuhan, masalah ke-Tuhanan dan agama, adanya kebenaran keyakinan yang terlihat dalam bentuk formalitas, bentuk-bentuk praktek keagamaan, dan sebagainya.
Penggunaan metode-metode dalam penelitian psikologi agama sebenarnya dapat dilakukan dengan beragam, tergantung kepada kepentingan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Adakalanya seseorang lebih memilih dokumen pribadi untuk meneliti pengalaman agama. Demikian pula ada yang selain menggunakan dokumen pribadi, baik berupa riwayat hidup, buku harian, catatan, pernyataan, juga menggunakan angket dan wawancara sebagai pelengkap. Dengan banyaknya metode yang mungkin digunakan, terlihat bahwa metode yang dipakai dalam penelitian psikologi agama tidak berbeda dengan metode yang dipakai dalam penelitian ilmiah dalam cabang disiplin ilmu pengetahuan lain.
      g.   Metode Klinis dan Proyektivitas
Dalam pelaksanannya, metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dan agama
h.      Metode Umum Proyektivitas
Metode ini berupa penelitian dengan cara menyadarkan sejumlah masalah yang mengandung makna tertentu
i.        Apersepsi Nomotatik
Caranya dengan mengunakan gambar-gambar yang samar.
j.        Studi Kasus
Studi Kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau lainnya untuk kasus-kasus tertentu.
k.      Survei
Metode ini biasanya digunakan dalam penelitian sosial dan dapat digunakan untuk tujuan penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat.

G.  Teori Ilmu Jiwa Agama
a. Teori Monistik (Mono = Satu)
            Teori ini berpendapat bahwa sumber kejiwaan agama yang paling dominan adalah satu. Akan tetapi, sumber tunggal manakah yang paling dominan. Timbul beberapa pendapat dari para ahli:
1)   Thomas van Aquino
            Thomas mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah pikiran. manusia ber-Tuhan karena manusia menggunkan kemampuan pikirannya.
2)   Fredrick Hegel
            Filosof Jerman ini berpendapat agama adalah suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi. berdasarkan hal itu, agama semata-mata merupakan hal-hal atau persolan yang berhubungan dengan pikiran
3)   Sigmund Freud
            Pendapat S. Freud unsur kejiwaan yang menjadi sumber kejiwaan agama ialah libido sexuil (naluri seks).
4)   Rusolf Otto
            Menurut pendapatnya sumber kejiwaan agama adalah rasa kagum yang berasal dari the wholly other (yang sama sekali lain).
b. Teori Fakulti (Faculty Theory)
            Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada suatu faktor yang tunggal tetapi terdiri dari beberapa unsur, antara lain yang anggap memang berperan penting adalah:
1.      Cipta (Reason)
            Merupakan fungsi intelektual jiwa manusia. Ilmu Kalam (Teologi) adalah cerminan adanya pengaruh fungsi intelektual ini. Melalui cipta, orang dapat menilai, membandingkan, dan memutuskan sesuatu tindakan terhadap stimulus tertentu.
2.      Rasa (Emotion)
            Yang menjadi objek penyelidikan sekarang pada dasarnya adalah bukan anggapan bahwa pengalaman keagamaan seseorang itu dipengaruhi oleh emosi, melainkan sampai berapa jauhkah peran emosi itu dalam agama.
3.      Karya (Will)
            Will berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin serta ajaran agama berdasarkan fungsi kejiwaan.
H.  Objek Kajian Psikologi Agama
            Psikologi agama merupakan salah satu kajian empiris umat beragama.Artinya, dasar-dasar keyakinan dan pemahaman seseorang dapat diteliti secara empiris melalui tingkah laku seseorang dari pemahamannya terhadap agama yang diyakininya. Dalam konsep psikodiagnostik, perilaku beragama seseorang dipahami melalui penafsiran terhadap tanda-tanda tingkah laku, cara berjalan, langkah, gerak isyarat, sikap, penampilan wajah, suara dan seterusnya
            Kalaupun agama secara khusus tidak dapat dikaji secara empiris, akan tetapi pemahaman keagamaan seseorang yang berwujud dalam bentuk tingkah laku dapat diteliti. Yakni sejauh mana kapasitas seseorang dalam menyakini suatu agama.Sebab adakalanya seseorang yang mengaku dirinya beriman, namun dalam tingkahlakunya tidak mencerminkan nilai-nilai keagamaan yang diyakininya. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang dianggap tidak beriman (dalam artian normatif) namun segala tingkah lakunya mencerminkan suatu nilai keagamaan tertentu. Untuk itu dengan kajian empiris yang dilakukan oleh psikologi agama akan dapat diketahui kadar kualitas keimanan seseorang.
            Sebab tanpa disadari oleh berbagai kalangan bahwa munculnya kesadaran beragama, pengalaman keagamaan dan gejolak hati seseorang sangat berkaitan dengan psikologi. Sehingga tidak memiliki dasar yang kuat jika seseorang menolak adanya kajian empiris yang dilakukan ahli psikologi agama. Karena penelitian yang dilakukan ahli psikologi agama hanya sebatas pada pengalaman dan kesadaran seseorang dalam memahami keyakinan agamanya, dan tidak mempersoalkan benar tidaknya suatu agama atau norma-norma terbaik dari agama tertentu.
            Berdasarkan pendapat di atas, maka penelitian psikologi merujuk pada suatu sistem dari berbagai metode penelitian yang diarahkan pada pemahaman terhadap apa yang telah diperbuat, yang telah dipikirkan dan dirasakan oleh manusia. Sebab pijakan kepribadian manusia berdasarkan pada apa yang telah dipikirkan, dirasakan dan yang telah diperbuat olehnya. Sehingga Robert H. Thouless mengatakan, bahwa seorang peneliti psikologi tertentu dapat mempergunakan salah satu bentuk behaviorisme teoritik di mana ia menganggap bahwa perolehan mengenai tingkah laku manusia sebagai proses mekanik yang ditentukan oleh suatu prinsip yang menyatakan bahwa tingkah laku terpuji cenderung untuk diulangi.
            Pada dasarnya psikologi agama tidak membahas tentang iman dan kufur, surga dan neraka, serta hari kiamat dan sebagainya, juga tidak membahas mengenai definisi dan makna agama secara umum. Namun psikologi agama secara khusus mengkaji tentang proses kejiwaan seseorang terhadap tingkah laku dalam kehidupannya sehari-hari. Untuk itu dalam psikologi agama dikenal adanya istilah kesadaran agama (religious consciousness) dan pengalaman agama (religious experience).
            Menurut Zakiah Darajat kesadaran agama itu adalah bagian atau hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi atau disebut juga dengan aspek mental dan aktivitas agama. Sedangkan yang dimaksud pengalaman agama adalah unsur perasaan dan kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakannya.
            Dengan demikian psikologi agama tidak terlibat dalam memberikan penilaian benar atau salahnya suatu agama, yakni tidak mencampuri dan membahas keyakinan agama-agama tertentu. Untuk itu psikologi agama mengkaji dan meneliti proses keberagamaan seseorang, perasaan atau kesadaran beragamanya dalam pola tingkah laku kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat ditemukan sejauh mana pengaruh agama dan keyakinan tertentu pada dirinya. Dan yang terpenting adalah bagaimana kelakuan atau tindakan keagamaan yang telah diyakininya. Dengan kata lain bagaimana pengaruh keberagamaan seseorang terhadap proses dan kehidupan yang berkaitan dengan keadaan jiwanya, sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku secara fisik dan sikap atau tingkah laku secara bathini yang mana dapat diketahui cara berpikir, merasa atau emosinya.
            Aristoteles, menggambarkan jiwa sebagai potret badan. Menurut al Farabi, makna jiwa merupakan kesempurnaan awal bagi fisik adalah bahwa manusia dikatakan menjadi sempurna ketika menjadi makhluk yang bertindak. Sebab jiwa merupakan kesempurnaan pertama bagi fisik alamiah dan bukan bagi fisik buatan. Al-Kindi berpendapat, jiwa akan tetap kekal setelah kematian. Ia pindah ke alam kebenaran yang di dalamnya terdapat nur Sang Pencipta. Pentingnya kajian jiwa tersebut, sehingga Ibnu Miskawaih mengatakan, penyebab senang tidak hidup seseorang dipengaruhi oleh jiwa. Jika jiwa seseorang baik, mulia dan senang maka ia harus bergaul dengan orang-orang yang baik
Dari penjelasan diatas, ruang lingkup obyek kajian psikologi agama menurut Zakiah Darajat meliputi kajian :
a)      Bermacam-macam emosi yang menjalar diluar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tentram setelah selesai sholat, rasa lepas dari ketegangan batin sesuadah berdoa atau membaca ayat-ayat suci, perasaan tenang, pasrah dan menyerah setelah berdzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang dialaminya.
b)  Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual kepada Tuhannya, misalnya merasa tentram dan kelegaan batin.
c)    Mempelajari, meneliti dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup setelah mati (akherat) pada tiap-tiap orang.
d)  Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.
e)    Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci dan kelegaan batinnya.
            Dengan demikian psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari dan meneliti tentang pengaruh dan peran pengalaman agama terhadap eksistensi diri seseorang berupa sikap, perilaku, tindakan, penampilan yang muncul di permukaan aktifitas kehidupan secara nyata.
            Sebagai disiplin ilmu yang otonom, psikologi agama memiliki obyek kajian tersendiri dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama lainnya.Sebagai contoh, dalam tujuannya, psikologi agama seperti diungkapkan Robert H. Thouless, memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat. Kajian berpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan menggunakan pendekatan psikologi.

  


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
            Psikologi agama terdiri dari kata psikologi dan agama. Psikologi berarti studi ilmiah atas gejala kejiwaan manusia. Sebagai kajian ilmiah, psikologi jelas mempunyai sifat teoritik-empirik, dan sistematik. Sementara agama bukanlah ilmu dalam pengrtian kajian ilmiah. Agama merupakan suatu aturan yang menyangkut cara-cara bertingkah laku, berperasaan dan berkeyakinan secara khusus. Setidaknya agama menyangkut ke-ilahi-an. Maksudnya, agama menyangklut segala sesuatu yang bersifat ketuhanan. Sebaliknya psikologi menyangkut manusia dan lingkungannya. Agama bersifat transenden, psikologi bersifat profan. Oleh karena itu, psikologi tidak bisa memasuki wilayah ajaran keagamaan. Alasannya, psikologi dengan watak keprofanannya itu sangat terikat dengan pengalaman dunia, sementara agama merupaka urusan Tuhan yang sudah tentu mengatasi semua pengalaman tersebut.
            Demikianlah pembahasan makalah yang dapat saya tulis. Dan tentunya masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan baik dari susunan isinya maupun dalam penyampaiannya. Maka dari itu kritik dan saran sangat penulis harapkan, dan semoga makalah ini dapat menambah wawasan kita. Aamiin.



DAFTAR PUSTAKA

Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Bandung: Grafido Persada, 2004)
Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Agama (Bandung : Pustaka Setia, 2008)
Ramayulis, Psikologi Agama(Jakarta : kalam mulia, 2011)
Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama sebuah Pengantar (Jakarta : Mizan, 2004)
A. Aziz Ahyadi, Psikologi Agama (Bandung : Mariana, 2010)
Abidin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1998)
Jalaludin, Psikologi Agama (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001)
Aziz, Abdul. Ilmu Jiwa (Jakarta : Bulan Bintang, 1976)
Daradjat Zakiah, Ilmu Jiwa (Jakarta : Bulan Bintang, 1970)
Arifin, Zainal. Perkembangan Pikiran Terhadap Agama. (Jakarta : Pustaka Al Husna, 1984)
http://adenurhidayah.blogspot.com/2012/04/makalah-pengertian-psikologi-agama.html



[1]Sururin, IlmuJiwa Agama (Bandung: GrafidoPersada, 2004), hal. 2
[2]BambangSyamsulArifin, Psikologi Agama (Bandung :PustakaSetia, 2008), hal. 11
[3]Ramayulis, Psikologi Agama (Jakarta :kalammulia, 2011), hal. 5
[4]JalaluddinRakhmat, Psikologi Agama sebuahPengantar (Jakarta :Mizan, 2004), hal. 50
[5]Ibid, hal.51
[6]Ibid,hal. 52
[7]A. Aziz Ahyadi, Psikologi Agama (Bandung : Mariana, 2010), hal. 17
[8]A. Aziz Ahyadi, Psikologi Agama (Bandung : Mariana, 2010), hal. 17
[9]Jalaludin,Psikologi Agama (Jakarta :GrafindoPersada, 2001), hal. 13






1 komentar:

  1. Vampires in the Enchanted Castle casino - FilmFileEurope
    Vampires in the Enchanted Castle Casino. Vampires in the Enchanted Castle Casino. Vampires in 꽁 머니 토토 the Enchanted Castle Casino. Vampires air jordan 18 retro men red good website in air jordan 18 stockx free shipping the Enchanted Castle Casino. Vampires where to buy air jordan 18 retro men red in 스포츠 스코어 the Enchanted

    BalasHapus